Tiongkok
sebagai Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia
Salah
satu bukti kehebatan pendidikan Negara tirai bambu ialah pelajar pendidikan di
Shanghai menduduki peringkat pertama dunia dalam katagori system pendidikan
terbaik. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survey standar pendidikan melalui
Program for Internasional Student Assessment (PISA) terhadap 34 negara di
dunia. Tes yang diselenggarakan oleh OECD (Oganization for Economic Cooperation
and Development) tersebut melibatkan pera pelajar berusia 15 tahun. Tes
tersebut telah memenuhi standar internasional yang meliputi pengujian terhadap
beberapa pelajaran, seperti matematika, membaca, dan sains. Dalam hasil survey
diketahui bahwa Shanghai menduduki peringkat teratas. Begitu pula secara spesifik
dalam bidang matematika dan membaca.
Sebagai
yang terbaik, Tiongkok mempunyai skor yang sangat tinggi melampaui
pesaing-pesaingnya, terutama Amerika Serikat. Sementara Indonesia hanya
menduduki urutan ke-33 dan peringkat paling bawah ditempati Peru. Skor pelajara
Shanghai tersebut adalah 570. Padahal, nilai standar untuk masing-masing bidang
studi adalah 494 untuk matematika, 496 untuk membaca, 501 untuk sains. Angka
pelajar Shanghai tersebut berada diatas rata-rata (standar) OECD.
Beberapa
fakta tersebut memberi penegasan kepada dunia bahwa Tiongkok adalah Negara yang
sukses dalam mengemban tujuan pendidikannya. Dalam hal ini, tujuan utama
pendidikan Tiongkok adalah memperisapkan pelajar mengembangkan dirinya dalam
dimensi moral, intelektual, fisik, serta estetika sesuai dengan bidang
pekerjaannya kelak. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa menjadi pekerja
sosialisasi yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya, memiliki karakter
kuat, serta disiplin.
1.
Mengintip Sejarah
Pendidikan Tiongkok
Pendidikan
mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun dan memajukan bangsa.
Dengan pendidikan, suatu bangsa bisa mengembangkan masyarakatnya menjadi cerdas
dan terampil. Setiap Negara mempunyai keunikan tersendiri dalam hal system
pendidikan.
a. Pengaruh Filsafat dalam Pendidikan Tiongkok
Bangsa
Tiongkok memandang pendidikan sebagai segalanya. Orang Tiongkok menomor satukan
pendidikan dalam kehidupannya karena mereka menganggap pendidikan sejalan
dengan filsafat. Bahkan, pendidikan menjadi alat bagi filsafat yang sangat
mengutamakan etika. Anggapan ini muncul dari ajaran Konfusius yang menyatakan
bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pada masa itu, ajaran tersebut
mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat Tiongkok yang salah satu cirinya ditandai
dengan berdirinya Dinasti Han. Anggapan tersebut pun pada gilirannya menjadikan
popularitas aliran filsafat Konfusius kembali menguat pada masyarakat Tiongkok.
Keselarasan
antara pendidikan dengan filsafat telah memberikan perkembangan yang cukup
signifikan terhadap pendidikan. Dari ajaran tersebut, orang Tiongkok akhirnya
berpandangan bahwa belajar harus dilakukan sampai mati. Artinya, hanya kematian
yang dapat menghentikan proses belajar. Bagi masyarakat Tiongkok, belajar
merupakan aktivitas yang harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagai ganjarannya,
ada kemungkinan jabatan yang tinggi akan diperoleh. Dengan konsep dan pemikiran
seperti ini, sebagaimana dikatakan Raymod Dawson, Tiongkok telah memberikan
status yang sangat tinggi pada kegiatan belajar, lebih dari masyarakat mana
pun.
Pendidikan
adalah mesin yang mengarahkan dunia pada kebenaran sehingga harus terus
dikerjar sampai mati. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh ajaran Konghucu,
yakni agama bagi sebagian besar nasyarakat Tiongkok.
Pada masa
Dinasti Han, pendidikan di Tiongkok sudah berkembang pesat. Hal ini ditandai
dengan didirikannya berbagai sekolah informal oleh para pengikut Konfusius yang
berada di beberapa distrik. Disebut sekolah informal karena proses
belajar-mengajar yang diterapkan disekolah-sekolah tersebut tidak terikat oleh
tempat dan waktu. Pada masa itu, pengajaran dilakukan menggunakan metode
ekspositori (ceramah). Dalam model ini, guru lebih aktif dalam mentransfer
materi pelajaran kepada para murid. Berjalannya
pendidikan distrik sangat bergantung pada peran para saudagar. Sebab, merekalah
yang menjadi donatur bagi kelangsungan sekolah-sekolah tersebut.
Sekolah-sekolah
tersebut didirikan dengan tujuan mendapatkan pejabat-pejabat kerajaan yang
berkualitas, karenanya, sekolah menjadi media untuk menampung para pemuda yang
ingin menuntut ilmu sebelum mereka mengikuti tahapan-tahapan ujian penerimaan
sebagai pegawai kekaisaran. Rakyat Tiongkok yang ingin menjadi pegawai kerajaan
pada masa itu tidak dipandang dari status sosialnya. Selama mereka bisa
melewati berbagai tahapan ujian yang ditetapkan oleh kaisar, siapapun berhak
menjadi pegawai kerajaan. Hal ini sejalan dengan ajaran Konfusius yang tidak
memperbolehkan seseorang memandang asal usul, strata sosial, ataupun pangkat.
Lalu apa
saja materi yang diajarkan saat itu? Berbeda dengan pendidikan modern yang
mengajarkan berbagai prisip ilmu, materi pelajaran yang disampaikan dalam masa
Dinasti Han berasal dari kitab Konfusius. Di dalam kitab tersebut terkandung
beragam prinsip ilmu yang disajikan dalam bentuk kisah dan cerita sastra.
Selain itu, kitab konfusius juga mengandung ilmu pasti, hokum, strategi perang,
dan sebagainya. Murid tidak
hanya dituntut sekedar paham atas semua isi kitab Konfusius. Tetapi juga harus menghafal
untuk memantapkan pemahaman. Anjuran lainnya ialah murid juga harus bisa
mengembangkan sendiri isi kitab tersebut, kemudian menuangkannya dalam bentuk
puisi.
b. Evaluasi Pendidikan
Sekolah di
Tiongkok pada masa itu sudah mengenal evaluasi. Karenanya, setelah proses
pembelajaran, para murid akan mengikuti tahapan evaluasi atau system ujian.
Disini, ujian yang dilakukan ialah suatu system evaluasi yang kompleks dan
dibagi dalam tiga tahapan, diantaranya :
Li
Lanqing selaku Wakil Perdana Menteri Tiongkok yang memegang peranan penting
dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan Tiongkok pada akhir tahun 1990-an
dan awal 2000an. Ia adalah orang yang mempunyai visi dan komitmen sangat kuat
terhadap dunia pendidikan. Karenanya, disamping menjabat Wakil Perdana Menteri,
Li Lanqing juga diberi tugas menangani masalah pendidikan di negeri tersebut.
Sekalipun tidak mempunyai latar belakang bidang pendidikan, dalam praktiknya Li
Lanqing dianggap berhasil mendorong kemajuan Tiongkok meliputi reformasi pendidikan.
2.
Sistem Pendidikan Tiongkok
saat ini
a. Sistem Pendidikan Tiongkok
Tiongkok adalah Negara
dengan sistem pendidikan yang patut dicontoh karena berhasil mencetak dan
melahirkan siswa-siswi berprestasi tingkat dunia. Manajemen pendidikan Tiongkok
memiliki karakteristik tersentralisiasi (terpusat), mulai dari level pusat,
provinsi, kota madya, kabupaten, dan termasuk daerah otonomi setingkat kota
madya. Jenjang pendidikan di Tiongkok dibagi menjadi empat sector, yaitu basic
education, technical dan vocational education, higher education serta
education. Selain itu, Tiongkok juga mengenal pendidikan prasekolah. Pada
jenjang ini, anak murid diajarkan beberapa hal meliputi permainan, kegiatan
kelas, olahraga, observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.
b. Jam Belajar dan Pendekatan Pembelajaran
Sebelum membahas sistem
pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai jam belajar dan pendekatan
pembelajaran yang digunakan oleh tiongkok. Sebagaimana diketahui bahwa secara
geografis, Tiongkok berada di belahan bumi utara. Karenanya, Tiongkok
memberikan libur musim panas yang jatuh pada pertengahan Juli hingga akhir
Agustus. Selain itu, ada pula libur musim dingin yang terjadi pada bulan
Januari dan Februari. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran disekolah
berlangsung pada bulan September hingga pertengahan Juli. Sementara itu, tahun
akademik dibagi menjadi 2 semester dimulai pada tanggal 1 September dan 1
Maret.
Liburan musim panas tidak
dimanfaatkan untuk berlibur, tetapi diganti dengan pelajaran tambahan.
Pelajaran tambahan ini biasa disebut sebagai kelas musim panas atau belajar
untuk mempersiapkan ujian. Adapun jam belajar di sekolah rata-rata masuk pukul
07.30 dan berakhir pada jam 17.00 dengan diselingi istirahat siang selama dua
jam.
Pendekatan pembelajaran
yang digunakan bukanlah menghafal sebagaimana lazim diterapkan. Pendidikan di
Tiongkok lebih menekankan pada penguasaan materi, konsep, dan keterampilan. Karenanya,
murid-murid di Tiongkok tidak
dituntut untuk menghafal mata pelajaran, materi atau konsep. Mereka justru
dijarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami suatu hal yang sedang
dipelajari. Pendekatan seperti ini dipandang lebih efektif daripada menghafal
karena memudahkan murid di dalam mencerna pelajaran. Mereka juga akan lebih
mudah memahami hal-hal yang telah diperoleh sehingga terinternalisasi
sepenuhnya di dalam diri.
Proses belajar-mengajar
tidak hanya dilakukan didalam kelas (indoor), tetapi juga di luar kelas
(outdoor). Karenanya, proses belajar-mengajar di Tiongkok sangat variatif
karena bisa dilakukan dimana saja, termasuk laboratorium dan alam bebas. Hal
ini dilakukan dengan tujuan meransang kemampuan afektif dan psikomotorik murid.
Dengan demikian, murid akan lebih mudah menangkap dan mencerna pelajaran karena
proses pembelajaran yang dilakukan pleh sekolah sangat menyenangkan sehingga
menjadikan murid lebih bersemangat.
Dengan mencermati uraian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan di Tiongkok sangat
bertolak belakang dengan yang diterapkan ditanah air. Pola pendidikan disana
tidak memerintahkan siswa-siswinya untuk menghafal karena lebih menekankan
penguasaan materi dan keterampilan peserta didik. Hal ini sepenuhnya didukung
oleh proses belajar-mengajar yang kondusif sehingga tingkat keberhasilan
pendidikan sangat tinggi.
Pendekatan pembelajaran
ini juga didukung sepenuhnya oleh kurikulum modern, sarana dan prasarana
memadai, tenaga pengajar berkualitas, serta dana pendidikan yang mencukupi.
Bahkan, hal tersebut semakin menjanjikan berkat tingginya budaya belajar
masyarakat Tiongkok. Tanpa semua hal tersebut, pendekatan pembelajaran tidak
akan efektif dan Tiongkok mustahil dikenal sebagai salah satu Negara maju di
dunia saat ini.
c. Kurikulum Pendidikan Tiongkok
Reformasi pendidikan di
Tiongkok telah memberikan angin segar turut mengubah kurikulum sekolah. Li
lanqing melakukan reformasi pendidikan mencakup semua aspek. Tidak hanya dalam
buku teks, sistem evaluasi, dan ujian, Li Lanqing juga melakukan reformasi pada
kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi
yang dimiliki anak. Kurikulum jiga diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi
yang dimiliki murid agar dapat berkembang secara optimal. Selain itu, dilakukan
pula pembenahan pada pola belajar-mengajar. Pembelajaran harus berorientasi
pada siswa melalui diskusi, mendorong cara berpikir inovatif, serta
mengedepankan kualitas.
Tiongkok lebih
menitikberatkan mata pelajaran yang berunsur praktis sehingga disana sekolah
mewajibkan setiap murid berlatih
olahraga, setidaknya satu jam sebelum pelajaran dimulai. Selain itu,
sekolah Tiongkok juga menganggap memasak
sebagai salah satu bidang yang sangat penting selain seni budaya. Karenanya
sekolah di Tiongkok mempraktikkan memasak ini karena memang harus dialami oleh
siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana pendidikan di
Indonesia, sistem penilaian di Tiongkok berkaitan erat dengan ujian. Karenanya
ujian adalah hal penting sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan atau
kegagalan pendidikan. Sehubungan dengan itu, pada setiap tingkatan sekolah di
Tiongkok diadakan ujian. Bahkan, pada jenjang sekolah dasar dan menengah
dilaksanakan empat macam ujian dengan rincian ujian semester, ujian tahunan,
ujian akhir sekolah, serta tes masuk SMP / SMA. Untuk jenjang SMP, materi yang
diujikan terbatas pada mata pelajaran bahasa Mandarin dan Matematika. Sementara
itu, untuk ujian masuk SMA, pelaksanaanya digabung dengan ujian akhir SMP.
Adapun untuk masuk penguruan tinggi diadakan seleksi dalam wujud ujian seleksi
nasional. Pada ujian ini, pilihan ilmu sosial dan sains dipisahkan.
Lalu seperti apa kerangka
dasar dan struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk
jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus ? kurikulum yang di maksud mancakup
beberapa hal :
1. Kelompok mata pelajaran
Tiongkok dan moral.
2. Kelompok mata pelajaran
ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika.
3. Kelompok mata pelajaran
sosial dan politik.
4. Kelompok mata pelajaran
jasmani, olahraga, dan kesehatan.
5. Kelompok mata pelajaran
bahasa Mandarin dan bahasa asing.
Mata pelajaran pada setiap
jenjang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkatan dan kesulitan
pelajaran. Sehubungan dengan itu, berikut adalah jumlah mata pelajaran dalam
setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah
atas :
a. Sekolah dasar memiliki 10
mata pelajaran wajib di antaranya moral, matematika, dan Tiongkok atau bahasa
Mandarin.
b. Mata pelajaran wajib pada
sekolah menengah pertama terdiri dari 13 jenis, diantaranya moral, Tiongkok,
bahasa asing, serta politik.
c. Adapun untuk sekolah
menengah atas, tidak ada bobot mata pelajaran yang diwajibkan. Hal ini
disebabkan SMA menetapkan suatu sistem yang menyesuaikan mata pelajaran dengan
keinginan siswa, kebutuhan sosial masyarakat, serta kondisi lembaga setempat
dengan beberapa mata pelajaran pilihan. Untuk kelulusan SMA, Tiongkok
menggunakan sistem ujian nasional. Selanjutnya, untuk masuk ke perguruan tinggi
digunakan ujian atau seleksi masuk.
d. Tenaga Pengajar
Perlu
diketahui bahwa peranan guru sangat vital terhadap kehidupan dan kelangsungan
proses belajar-mengajar. Karenanya, kualitas dan kompetensi guru harus
benar-benar terjamin. Jika guru berkualitas rendah maka hanya akan menghasilkan
siswa-siswi yang kurang bermutu. Di Tiongkok, kualitas dan kompetensi guru
betul-betul terjaga karena hal itu merupakan jaminan untuk masa depan para
siswa. Guru yang tidak berkualitas betul-betul dilarang karena dapat menjadi
boomerang bagi pendidikan.
Di Tiongkok, guru dikelompokkan berdasarkan
kualitasnya. Adapun pihak yang memberikan penilaian terhadap guru tersebut
adalah siswa-siswi di sekolah. Siswa mendapatkan kebebasan dalam memberikan
penilaian terhadap kualitas guru secara objektif, mulai dari berkompeten sampai
tidak berkualitas.
Untuk
mendapatkan guru yang berkualitas dan kompeten, pemerintah Tiongkok mengadakan
pendidikan guru. Dalam pandangan masyarakat, pendidikan guru merupakan elemen
penting dari sistem pendidikan sosialis di Tiongkok. Bahkan, pendidikan guru
menjadi salah satu tulang punggung dalam kemajuan pendidikan Tiongkok selama 50
tahun terakhir. Hal ini tidak megherankan mengingat pemerintah sangat
bersungguh-sungguh memerhatikan masalah ini. Dalam hal ini pemerintah
memberikan kebijakan yang sangat baik dalam membangun kualitas guru bertaraf
internasional.
3.
Prinsip Mengajar Orang Tiongkok
a)
Displin Tinggi
Tidak ada kesuksesan dalam
hal apaun tanpa didasari kedisiplinan. Dalam hal pendidikan dan sekolah,
kedisiplinan menjadi hal yang paling penting guna melahirkan siswa-siswi
unggul. Sekolah-sekolah di Tiongkok menanamkan sikap disiplin yang sangat kuat.
Para guru menerapkan disiplin secara ketat dan setiap murid diharuskan menaati
peraturan-peraturan di sekolah. Tidak hanya murid, para guru juga harus
disiplin karena mereka contoh nyata peserta didik. Jika ada siswa yang terbukti
melanggar peraturan maka sanksi tegas akan diberikan tanpa pandang bulu.
Bentuk kedisiplinan yang
sangat ekstrem terdapat pada jenjang pendidikan atau sekolah atlet usia dini.
Bentuk disiplin di sekolah-sekolah tersebut dapat dikatakan mengerikan. Sebab,
peserta didik mendapat tekanan intens agar mereka dikemudian hari berhasil
menjadi juara kompetisi internasional, terutama olimpiade.
Dengan adanya kedisiplinan
yang sangat tinggi tersebut, tidaklah mengherankan jika murid-murid di Tiongkok
kemudian mampu meraih prestasi. Bagaimanapun kedisiplinan memang sangat
mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan disiplin, baik dalam menggunakan
waktu, belajar, serta menjalankan segala aktivitas, pelajar Tiongkok menjadi
sosok yang luar biasa.
b)
Spesifikasi jelas
Pendidikan di Tongkok
mempunyai spesifikasi yang jelas dan hal ini telah dibentuk sejak dini.
Karenanya, jika seseorang anak mempunyai kecendrungan terhadap setuatu bidang
ilmu maka sejak dini mereka sudah mendapatkan pendidikan mengenai
prinsip-prinsip ilmu tersebut, bahkan ketika ia sampai pada pendidikan jenjang
perguruan tinggi, kecendrungan tersebut dapat dipenuhi dengan mengambil jurusan
yang sesuai. Sebagai contoh :
Seorang murid mempunyai kecendrungan
dalam bidang misalnya akupunktur dengan berbagai cara , salah satunya melalui
les privat atau kursus yang mengajarkan pengetahuan tentang pengobatan
akupuntur. Begitu menempuh pendidikan tinggi, ia dapat lebih serius menekuni
dunia akupuntur dengan cara mengambil spesifikasi tersebut dalam bentuk
jurusan.
Dengan
mengambil spesifikasi seperti ini, murid tersebut dicetak menjadi tenaga ahli
yang sebenarnya. Kelak ia bukan hanya menjadu sarjana akupuntur, tetapi
benar-benar menjadi tenaga pengobatan yang sangat ahli. Hal ini tentu berbeda
dengan fenomena ditanah air di mana banyak orang hanya mencari gelar dan
ijazah.
Dimasa
lalu, akupuntur tidak diakui oleh dunia Barat karena dianggap aneh dan cendrung
mengarah ke hal-hal yang berbau klenik, namun demikian, tiongkok tetap
mengembangkan pengobatan akupuntur ini secara serius dengan cara memberikan
pelayanan terhadap murid-murid yang ingin mendalami dan memiliki kecendrungan
terhadap jenis pengobatan ini. Para murid mendapatkan fasilitas dan dukungan,
baik dari sekolah, pemerintah, maupun orang tua. Karenanya, mereka bisa
menguasai akupuntur ini dengan baik sekaligus menunjukan kepada dunia bahwa
ilmu yang selama ini mereka pelajari dan kembangkan sangat bermanfaat dalam
dunia pengobatan Tiongkok.
Dari
penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa baik pemerintah maupun orang tua
mempunyai tanggung jawab penuh dalam memnuhi kecendrungan dan spesifikasi
pendidikan anak. Dalam hal ini, anak yang mempunyai bakat dan kecendrungan pada
bidang tertentu harus mendapatkan perhatian serius dengan cara memberikan
dukungan dan bimbingan semaksimal mungkin. Hal ini bertujuan agar bakat anak
tersebut dapat dikembangkan secara optimal. Karenanya, lembaga pendidikan
menjadi satu-satunya media yang bisa memberikan pelayanan dan fasilitas
terhadap anak tersebut.
c)
Target yang jelas
Bagaimana
target pendidikan bisa menjadi jelas ? untuk menjawab hal ini, perlu diingat
kembali prihal tujuan pendidikan di Toingkok. Dalam hal ini, pendidikan nasional
dilakukan dengan tujuan mempersiapkan pelajar untuk mengembangkan diri dengan
sebaik-baiknya, baik dalam dimensi moral, intelektual, fisik, dan estetika,
sesuai bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat menjadi pekerja
sosialis yang memiliki idealism, terdidik dan berbudaya, berkarakter kuat,
serta displin. Selain itu, pendidikan juga dilakukan untuk menopang
pembangunan sosialis di Tiongkok.
Target pendidikan Tiongkok bukanlah memperoleh gelar
dan ijazah. Selama menempuh studi, target peserta didik sangat jelas, yaitu
menjadi sosok intelektual dan ahli sesuai bidang yang ditekuni. Kemudian,
setelah lulus, mereka akan bekerja untuk memajukan Negara, baik dalam instensi
pemerintahan maupun swasta. Dengan target-target tersebut, kegagalan pendidikan
tentu sangat minim karena sekolah memberikan pendidikan yang layak dan optimal.
Begitu juga peserta didik menjadi lebih giat belajar agar mampu mencapai
target=target yang ditentukan.
d)
Kompetisi sangat ketat
Para pelajar
di Tiongkok tidak suka bersantai atau bermalas-malasan. Saat waktu istirahat,
murid-murid di Tiongkok tidak menghabiskan waktu dengan bermain ataupun keluar
dari lingkungan sekolah. Sebalinya, waktu istirahat disana dimanfaatkan untuk
makan dan tidur siang. Hal ini tidak mengherankan mengingat murid-murid disana
sangat tekun dan serius dalam belajar. Terlebih, sekolah di sana menerapkan
kedisiplinan yang sangat ketat.
Kompetisi
yang menjadi tujuan utama keberhasilan peserta didik dalam belajar kemudian
didukung oleh lingkungan sekolah yang memang betul-betul berupaya mencetak
murid-murid prestisius. Tujuan utama belajar bukan hanya agar berhasil masuk
sekolah atau universitas terbaik, tetapi juga mempu tampil di kancah
Internasional dalam kompetisi di segala bidang. Maka, tidaklah mengherankan
jika dalam berbagai kompetisi pelajar asal Tiongkok kerap menjadi yang terbaik,
salah satunya dalam kancah Olimpiade Internasional.
Mereka tidak berlomba –lomba menjadi murid teladan dan
prestasi di bidangnya dalam lingkup kecil, melainkan sampai pada level dunia.
Murid-murid di Tiongkok memang dididik sedemikian rupa agar menjadi anak-anak
yang berbeda dan mempunyai prestasi dan kemampuan akademik membanggakan.
Karenanya, banyak kalangan menyatakan bahwa Tiongkok adalah Negara paling
prestisius di berbagai bidang.
Metode
Pembelajaran di Sekolah
A. Jam Belajar Panjang
Durasi jam
belajar setiap jenjang pendidikan di Tiongkok berbeda-beda. untuk
SD :
06.30 – 15.00
SMP : 06.30 –
17.00
SMA : 06.30 –
19.00 dan di berikan kelas tambahan hingga 22.30
Dengan jam
belajar yang berlangsung sepanjang hari, sekolah di Tiongkok termasuk kategori
unggul di dunia.
Lalu, apa yang
mendasari Tiongkok menerapkan jam belajar yang sangat panjang ? salah satunya
adalah Tiongkok ingin melahirkan murid-murid yang berprestasi tingkat dunia.
Dalam hal ini, orang tua murid turut memberi dukungan, terutama agar
putra-putrinya berhasil masuk universitas terkemuka. Di Tiongkok hampir tidak
mungkin dijumpai seorang anak SD yang bermain di luar rumah karena mereka sibuk
mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan hari Sabtu yang lazimnya dimanfaatkan
untuk bersantai tetap digunakan untuk belajar. Pada hari itu, mereka belajar
bahasa Inggris atau memperdalam penguasaan mata pelajaran lainnya.
untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran
Dosen : Dirgantara Wicaksono,M.Pd

Tidak ada komentar:
Posting Komentar