Nama : Mellia Nur Fauziyah
Seek
knowledge up to China. Perhaps the phrase that we often hear by us as a student
of knowledge. The phrase was just a picture that we must seek knowledge
wherever we are. Not that China is becoming a benchmark we stop looking for
science. However, China country serve as examples of countries that have the
quality of work and have the router generation outstanding compared to other
countries.
Hard
work and discipline owned Chinese people which makes it a strong state and a
larger current compared with the superpower, like the United States and others.
Therefore, the Chinese state used as a country that has more charisma than
other countries.
Not
only that, for a Muslim, we are obliged to seek knowledge from the cradle to
the grave. This has been God wrote in a hadist that reads, “Seek knowledge from
the cradle to the grave”. After we are born in this world, in fact we already
have an obligation to study. It can be seen from the first time we can talk,
crawl, walk, run, read, write, and so forth.
Tiongkok
sebagai Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia
Salah satu bukti kehebatan pendidikan Negara tirai bambu
ialah pelajar pendidikan di Shanghai menduduki peringkat pertama dunia dalam
katagori system pendidikan terbaik. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survey
standar pendidikan melalui Program for Internasional Student Assessment (PISA)
terhadap 34 negara di dunia. Tes yang diselenggarakan oleh OECD (Oganization
for Economic Cooperation and Development) tersebut melibatkan pera pelajar
berusia 15 tahun. Tes tersebut telah memenuhi standar internasional yang
meliputi pengujian terhadap beberapa pelajaran, seperti matematika, membaca,
dan sains. Dalam hasil survey diketahui bahwa Shanghai menduduki peringkat
teratas. Begitu pula secara spesifik dalam bidang matematika dan membaca.
Sebagai yang terbaik, Tiongkok mempunyai skor yang sangat
tinggi melampaui pesaing-pesaingnya, terutama Amerika Serikat. Sementara
Indonesia hanya menduduki urutan ke-33 dan peringkat paling bawah ditempati
Peru. Skor pelajara Shanghai tersebut adalah 570. Padahal, nilai standar untuk
masing-masing bidang studi adalah 494 untuk matematika, 496 untuk membaca, 501
untuk sains. Angka pelajar Shanghai tersebut berada diatas rata-rata (standar)
OECD.
Beberapa fakta tersebut memberi penegasan kepada dunia
bahwa Tiongkok adalah Negara yang sukses dalam mengemban tujuan pendidikannya.
Dalam hal ini, tujuan utama pendidikan Tiongkok adalah memperisapkan pelajar
mengembangkan dirinya dalam dimensi moral, intelektual, fisik, serta estetika
sesuai dengan bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa
menjadi pekerja sosialisasi yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya,
memiliki karakter kuat, serta disiplin.
1.
Mengintip
Sejarah Pendidikan Tiongkok
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam
membangun dan memajukan bangsa. Dengan pendidikan, suatu bangsa bisa
mengembangkan masyarakatnya menjadi cerdas dan terampil. Setiap Negara
mempunyai keunikan tersendiri dalam hal system pendidikan.
a. Pengaruh Filsafat dalam Pendidikan
Tiongkok
Bangsa
Tiongkok memandang pendidikan sebagai segalanya. Orang Tiongkok menomor satukan
pendidikan dalam kehidupannya karena mereka menganggap pendidikan sejalan
dengan filsafat. Bahkan, pendidikan menjadi alat bagi filsafat yang sangat
mengutamakan etika. Anggapan ini muncul dari ajaran Konfusius yang menyatakan
bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pada masa itu, ajaran tersebut
mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat Tiongkok yang salah satu cirinya
ditandai dengan berdirinya Dinasti Han. Anggapan tersebut pun pada gilirannya
menjadikan popularitas aliran filsafat Konfusius kembali menguat pada
masyarakat Tiongkok.
Keselarasan
antara pendidikan dengan filsafat telah memberikan perkembangan yang cukup
signifikan terhadap pendidikan. Dari ajaran tersebut, orang Tiongkok akhirnya
berpandangan bahwa belajar harus dilakukan sampai mati. Artinya, hanya kematian
yang dapat menghentikan proses belajar. Bagi masyarakat Tiongkok, belajar
merupakan aktivitas yang harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagai ganjarannya,
ada kemungkinan jabatan yang tinggi akan diperoleh. Dengan konsep dan pemikiran
seperti ini, sebagaimana dikatakan Raymod Dawson, Tiongkok telah memberikan
status yang sangat tinggi pada kegiatan belajar, lebih dari masyarakat mana
pun.
Pendidikan
adalah mesin yang mengarahkan dunia pada kebenaran sehingga harus terus
dikerjar sampai mati. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh ajaran Konghucu,
yakni agama bagi sebagian besar nasyarakat Tiongkok.
Pada
masa Dinasti Han, pendidikan di Tiongkok sudah berkembang pesat. Hal ini
ditandai dengan didirikannya berbagai sekolah informal oleh para pengikut
Konfusius yang berada di beberapa distrik. Disebut sekolah informal karena
proses belajar-mengajar yang diterapkan disekolah-sekolah tersebut tidak
terikat oleh tempat dan waktu. Pada masa itu, pengajaran dilakukan menggunakan
metode ekspositori (ceramah). Dalam model ini, guru lebih aktif dalam
mentransfer materi pelajaran kepada para murid. Berjalannya pendidikan distrik sangat
bergantung pada peran para saudagar. Sebab, merekalah yang menjadi donatur bagi
kelangsungan sekolah-sekolah tersebut.
Sekolah-sekolah
tersebut didirikan dengan tujuan mendapatkan pejabat-pejabat kerajaan yang
berkualitas, karenanya, sekolah menjadi media untuk menampung para pemuda yang
ingin menuntut ilmu sebelum mereka mengikuti tahapan-tahapan ujian penerimaan
sebagai pegawai kekaisaran. Rakyat Tiongkok yang ingin menjadi pegawai kerajaan
pada masa itu tidak dipandang dari status sosialnya. Selama mereka bisa
melewati berbagai tahapan ujian yang ditetapkan oleh kaisar, siapapun berhak
menjadi pegawai kerajaan. Hal ini sejalan dengan ajaran Konfusius yang tidak
memperbolehkan seseorang memandang asal usul, strata sosial, ataupun pangkat.
Lalu
apa saja materi yang diajarkan saat itu? Berbeda dengan pendidikan modern yang
mengajarkan berbagai prisip ilmu, materi pelajaran yang disampaikan dalam masa
Dinasti Han berasal dari kitab Konfusius. Di dalam kitab tersebut terkandung
beragam prinsip ilmu yang disajikan dalam bentuk kisah dan cerita sastra.
Selain itu, kitab konfusius juga mengandung ilmu pasti, hokum, strategi perang,
dan sebagainya. Murid
tidak hanya dituntut sekedar paham atas semua isi kitab Konfusius. Tetapi juga
harus menghafal untuk memantapkan pemahaman. Anjuran lainnya ialah murid juga
harus bisa mengembangkan sendiri isi kitab tersebut, kemudian menuangkannya
dalam bentuk puisi.
b. Evaluasi Pendidikan
Sekolah
di Tiongkok pada masa itu sudah mengenal evaluasi. Karenanya, setelah proses
pembelajaran, para murid akan mengikuti tahapan evaluasi atau system ujian.
Disini, ujian yang dilakukan ialah suatu system evaluasi yang kompleks dan
dibagi dalam tiga tahapan, diantaranya :
Li Lanqing selaku Wakil Perdana Menteri Tiongkok yang
memegang peranan penting dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan Tiongkok
pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000an. Ia adalah orang yang mempunyai visi
dan komitmen sangat kuat terhadap dunia pendidikan. Karenanya, disamping
menjabat Wakil Perdana Menteri, Li Lanqing juga diberi tugas menangani masalah
pendidikan di negeri tersebut. Sekalipun tidak mempunyai latar belakang bidang
pendidikan, dalam praktiknya Li Lanqing dianggap berhasil mendorong kemajuan
Tiongkok meliputi reformasi pendidikan.
2.
Sistem
Pendidikan Tiongkok saat ini
a. Sistem Pendidikan Tiongkok
Tiongkok
adalah Negara dengan sistem pendidikan yang patut dicontoh karena berhasil
mencetak dan melahirkan siswa-siswi berprestasi tingkat dunia. Manajemen
pendidikan Tiongkok memiliki karakteristik tersentralisiasi (terpusat), mulai dari
level pusat, provinsi, kota madya, kabupaten, dan termasuk daerah otonomi
setingkat kota madya. Jenjang pendidikan di Tiongkok dibagi menjadi empat
sector, yaitu basic education, technical dan vocational education, higher
education serta education. Selain itu, Tiongkok juga mengenal pendidikan
prasekolah. Pada jenjang ini, anak murid diajarkan beberapa hal meliputi
permainan, kegiatan kelas, olahraga, observasi, pekerjaan fisik, serta
aktivitas sehari-hari.
b. Jam Belajar dan Pendekatan Pembelajaran
Sebelum
membahas sistem pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai jam belajar
dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh tiongkok. Sebagaimana diketahui
bahwa secara geografis, Tiongkok berada di belahan bumi utara. Karenanya,
Tiongkok memberikan libur musim panas yang jatuh pada pertengahan Juli hingga
akhir Agustus. Selain itu, ada pula libur musim dingin yang terjadi pada bulan
Januari dan Februari. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran disekolah
berlangsung pada bulan September hingga pertengahan Juli. Sementara itu, tahun
akademik dibagi menjadi 2 semester dimulai pada tanggal 1 September dan 1
Maret.
Liburan
musim panas tidak dimanfaatkan untuk berlibur, tetapi diganti dengan pelajaran
tambahan. Pelajaran tambahan ini biasa disebut sebagai kelas musim panas atau
belajar untuk mempersiapkan ujian. Adapun jam belajar di sekolah rata-rata
masuk pukul 07.30 dan berakhir pada jam 17.00 dengan diselingi istirahat siang
selama dua jam.
Pendekatan
pembelajaran yang digunakan bukanlah menghafal sebagaimana lazim diterapkan.
Pendidikan di Tiongkok lebih menekankan pada penguasaan materi, konsep, dan
keterampilan. Karenanya, murid-murid
di Tiongkok tidak dituntut untuk menghafal mata pelajaran, materi atau konsep.
Mereka justru dijarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami suatu hal
yang sedang dipelajari. Pendekatan seperti ini dipandang lebih efektif daripada
menghafal karena memudahkan murid di dalam mencerna pelajaran. Mereka juga akan
lebih mudah memahami hal-hal yang telah diperoleh sehingga terinternalisasi
sepenuhnya di dalam diri.
Proses
belajar-mengajar tidak hanya dilakukan didalam kelas (indoor), tetapi juga di
luar kelas (outdoor). Karenanya, proses belajar-mengajar di Tiongkok sangat
variatif karena bisa dilakukan dimana saja, termasuk laboratorium dan alam
bebas. Hal ini dilakukan dengan tujuan meransang kemampuan afektif dan
psikomotorik murid. Dengan demikian, murid akan lebih mudah menangkap dan
mencerna pelajaran karena proses pembelajaran yang dilakukan pleh sekolah sangat
menyenangkan sehingga menjadikan murid lebih bersemangat.
Dengan
mencermati uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan di
Tiongkok sangat bertolak belakang dengan yang diterapkan ditanah air. Pola
pendidikan disana tidak memerintahkan siswa-siswinya untuk menghafal karena
lebih menekankan penguasaan materi dan keterampilan peserta didik. Hal ini
sepenuhnya didukung oleh proses belajar-mengajar yang kondusif sehingga tingkat
keberhasilan pendidikan sangat tinggi.
Pendekatan
pembelajaran ini juga didukung sepenuhnya oleh kurikulum modern, sarana dan
prasarana memadai, tenaga pengajar berkualitas, serta dana pendidikan yang mencukupi.
Bahkan, hal tersebut semakin menjanjikan berkat tingginya budaya belajar
masyarakat Tiongkok. Tanpa semua hal tersebut, pendekatan pembelajaran tidak
akan efektif dan Tiongkok mustahil dikenal sebagai salah satu Negara maju di
dunia saat ini.
c. Kurikulum Pendidikan Tiongkok
Reformasi
pendidikan di Tiongkok telah memberikan angin segar turut mengubah kurikulum
sekolah. Li lanqing melakukan reformasi pendidikan mencakup semua aspek. Tidak
hanya dalam buku teks, sistem evaluasi, dan ujian, Li Lanqing juga melakukan
reformasi pada kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum sekolah dikembangkan sesuai
dengan potensi yang dimiliki anak. Kurikulum jiga diarahkan untuk memfasilitasi
semua potensi yang dimiliki murid agar dapat berkembang secara optimal. Selain
itu, dilakukan pula pembenahan pada pola belajar-mengajar. Pembelajaran harus
berorientasi pada siswa melalui diskusi, mendorong cara berpikir inovatif,
serta mengedepankan kualitas.
Tiongkok
lebih menitikberatkan mata pelajaran yang berunsur praktis sehingga disana
sekolah mewajibkan setiap murid berlatih
olahraga, setidaknya satu jam sebelum pelajaran dimulai. Selain itu,
sekolah Tiongkok juga menganggap memasak
sebagai salah satu bidang yang sangat penting selain seni budaya. Karenanya
sekolah di Tiongkok mempraktikkan memasak ini karena memang harus dialami oleh
siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana
pendidikan di Indonesia, sistem penilaian di Tiongkok berkaitan erat dengan
ujian. Karenanya ujian adalah hal penting sekaligus menjadi tolak ukur
keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Sehubungan dengan itu, pada setiap
tingkatan sekolah di Tiongkok diadakan ujian. Bahkan, pada jenjang sekolah
dasar dan menengah dilaksanakan empat macam ujian dengan rincian ujian
semester, ujian tahunan, ujian akhir sekolah, serta tes masuk SMP / SMA. Untuk jenjang
SMP, materi yang diujikan terbatas pada mata pelajaran bahasa Mandarin dan
Matematika. Sementara itu, untuk ujian masuk SMA, pelaksanaanya digabung dengan
ujian akhir SMP. Adapun untuk masuk penguruan tinggi diadakan seleksi dalam
wujud ujian seleksi nasional. Pada ujian ini, pilihan ilmu sosial dan sains
dipisahkan.
Lalu
seperti apa kerangka dasar dan struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus ? kurikulum yang
di maksud mancakup beberapa hal :
1. Kelompok
mata pelajaran Tiongkok dan moral.
2. Kelompok
mata pelajaran ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika.
3. Kelompok
mata pelajaran sosial dan politik.
4. Kelompok
mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
5. Kelompok
mata pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa asing.
Mata
pelajaran pada setiap jenjang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh
tingkatan dan kesulitan pelajaran. Sehubungan dengan itu, berikut adalah jumlah
mata pelajaran dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga
sekolah menengah atas :
a.
Sekolah dasar memiliki 10 mata pelajaran
wajib di antaranya moral, matematika, dan Tiongkok atau bahasa Mandarin.
b.
Mata pelajaran wajib pada sekolah menengah
pertama terdiri dari 13 jenis, diantaranya moral, Tiongkok, bahasa asing, serta
politik.
c.
Adapun untuk sekolah menengah atas, tidak ada
bobot mata pelajaran yang diwajibkan. Hal ini disebabkan SMA menetapkan suatu
sistem yang menyesuaikan mata pelajaran dengan keinginan siswa, kebutuhan
sosial masyarakat, serta kondisi lembaga setempat dengan beberapa mata
pelajaran pilihan. Untuk kelulusan SMA, Tiongkok menggunakan sistem ujian
nasional. Selanjutnya, untuk masuk ke perguruan tinggi digunakan ujian atau
seleksi masuk.
d. Tenaga Pengajar
Perlu diketahui bahwa peranan guru sangat vital terhadap
kehidupan dan kelangsungan proses belajar-mengajar. Karenanya, kualitas dan
kompetensi guru harus benar-benar terjamin. Jika guru berkualitas rendah maka
hanya akan menghasilkan siswa-siswi yang kurang bermutu. Di Tiongkok, kualitas
dan kompetensi guru betul-betul terjaga karena hal itu merupakan jaminan untuk
masa depan para siswa. Guru yang tidak berkualitas betul-betul dilarang karena
dapat menjadi boomerang bagi pendidikan.
Di Tiongkok, guru
dikelompokkan berdasarkan kualitasnya. Adapun pihak yang memberikan penilaian
terhadap guru tersebut adalah siswa-siswi di sekolah. Siswa mendapatkan
kebebasan dalam memberikan penilaian terhadap kualitas guru secara objektif,
mulai dari berkompeten sampai tidak berkualitas.
Untuk mendapatkan guru yang berkualitas dan kompeten,
pemerintah Tiongkok mengadakan pendidikan guru. Dalam pandangan masyarakat,
pendidikan guru merupakan elemen penting dari sistem pendidikan sosialis di
Tiongkok. Bahkan, pendidikan guru menjadi salah satu tulang punggung dalam
kemajuan pendidikan Tiongkok selama 50 tahun terakhir. Hal ini tidak
megherankan mengingat pemerintah sangat bersungguh-sungguh memerhatikan masalah
ini. Dalam hal ini pemerintah memberikan kebijakan yang sangat baik dalam
membangun kualitas guru bertaraf internasional.
a)
Displin
Tinggi
Tidak
ada kesuksesan dalam hal apaun tanpa didasari kedisiplinan. Dalam hal
pendidikan dan sekolah, kedisiplinan menjadi hal yang paling penting guna
melahirkan siswa-siswi unggul. Sekolah-sekolah di Tiongkok menanamkan sikap
disiplin yang sangat kuat. Para guru menerapkan disiplin secara ketat dan
setiap murid diharuskan menaati peraturan-peraturan di sekolah. Tidak hanya
murid, para guru juga harus disiplin karena mereka contoh nyata peserta didik.
Jika ada siswa yang terbukti melanggar peraturan maka sanksi tegas akan
diberikan tanpa pandang bulu.
Bentuk
kedisiplinan yang sangat ekstrem terdapat pada jenjang pendidikan atau sekolah
atlet usia dini. Bentuk disiplin di sekolah-sekolah tersebut dapat dikatakan
mengerikan. Sebab, peserta didik mendapat tekanan intens agar mereka dikemudian
hari berhasil menjadi juara kompetisi internasional, terutama olimpiade.
Dengan
adanya kedisiplinan yang sangat tinggi tersebut, tidaklah mengherankan jika
murid-murid di Tiongkok kemudian mampu meraih prestasi. Bagaimanapun
kedisiplinan memang sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan
disiplin, baik dalam menggunakan waktu, belajar, serta menjalankan segala
aktivitas, pelajar Tiongkok menjadi sosok yang luar biasa.
b) Spesifikasi jelas
Pendidikan
di Tongkok mempunyai spesifikasi yang jelas dan hal ini telah dibentuk sejak
dini. Karenanya, jika seseorang anak mempunyai kecendrungan terhadap setuatu
bidang ilmu maka sejak dini mereka sudah mendapatkan pendidikan mengenai
prinsip-prinsip ilmu tersebut, bahkan ketika ia sampai pada pendidikan jenjang
perguruan tinggi, kecendrungan tersebut dapat dipenuhi dengan mengambil jurusan
yang sesuai. Sebagai contoh :
Seorang murid mempunyai
kecendrungan dalam bidang misalnya akupunktur dengan berbagai cara , salah
satunya melalui les privat atau kursus yang mengajarkan pengetahuan tentang
pengobatan akupuntur. Begitu menempuh pendidikan tinggi, ia dapat lebih serius
menekuni dunia akupuntur dengan cara mengambil spesifikasi tersebut dalam
bentuk jurusan.
Dengan mengambil spesifikasi seperti ini, murid tersebut
dicetak menjadi tenaga ahli yang sebenarnya. Kelak ia bukan hanya menjadu
sarjana akupuntur, tetapi benar-benar menjadi tenaga pengobatan yang sangat
ahli. Hal ini tentu berbeda dengan fenomena ditanah air di mana banyak orang
hanya mencari gelar dan ijazah.
Dimasa lalu, akupuntur tidak diakui oleh dunia Barat
karena dianggap aneh dan cendrung mengarah ke hal-hal yang berbau klenik, namun
demikian, tiongkok tetap mengembangkan pengobatan akupuntur ini secara serius
dengan cara memberikan pelayanan terhadap murid-murid yang ingin mendalami dan
memiliki kecendrungan terhadap jenis pengobatan ini. Para murid mendapatkan
fasilitas dan dukungan, baik dari sekolah, pemerintah, maupun orang tua.
Karenanya, mereka bisa menguasai akupuntur ini dengan baik sekaligus menunjukan
kepada dunia bahwa ilmu yang selama ini mereka pelajari dan kembangkan sangat
bermanfaat dalam dunia pengobatan Tiongkok.
Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa baik
pemerintah maupun orang tua mempunyai tanggung jawab penuh dalam memnuhi
kecendrungan dan spesifikasi pendidikan anak. Dalam hal ini, anak yang
mempunyai bakat dan kecendrungan pada bidang tertentu harus mendapatkan perhatian
serius dengan cara memberikan dukungan dan bimbingan semaksimal mungkin. Hal
ini bertujuan agar bakat anak tersebut dapat dikembangkan secara optimal.
Karenanya, lembaga pendidikan menjadi satu-satunya media yang bisa memberikan
pelayanan dan fasilitas terhadap anak tersebut.
c)
Target
yang jelas
Bagaimana
target pendidikan bisa menjadi jelas ? untuk menjawab hal ini, perlu diingat
kembali prihal tujuan pendidikan di Toingkok. Dalam hal ini, pendidikan
nasional dilakukan dengan tujuan mempersiapkan pelajar untuk mengembangkan diri
dengan sebaik-baiknya, baik dalam dimensi moral, intelektual, fisik, dan
estetika, sesuai bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat menjadi
pekerja sosialis yang memiliki idealism, terdidik dan berbudaya, berkarakter
kuat, serta displin. Selain itu, pendidikan juga dilakukan untuk
menopang pembangunan sosialis di Tiongkok.
Target pendidikan Tiongkok bukanlah
memperoleh gelar dan ijazah. Selama menempuh studi, target peserta didik sangat
jelas, yaitu menjadi sosok intelektual dan ahli sesuai bidang yang ditekuni.
Kemudian, setelah lulus, mereka akan bekerja untuk memajukan Negara, baik dalam
instensi pemerintahan maupun swasta. Dengan target-target tersebut, kegagalan
pendidikan tentu sangat minim karena sekolah memberikan pendidikan yang layak
dan optimal. Begitu juga peserta didik menjadi lebih giat belajar agar mampu
mencapai target=target yang ditentukan.
d) Kompetisi sangat ketat
Para
pelajar di Tiongkok tidak suka bersantai atau bermalas-malasan. Saat waktu
istirahat, murid-murid di Tiongkok tidak menghabiskan waktu dengan bermain
ataupun keluar dari lingkungan sekolah. Sebalinya, waktu istirahat disana
dimanfaatkan untuk makan dan tidur siang. Hal ini tidak mengherankan mengingat
murid-murid disana sangat tekun dan serius dalam belajar. Terlebih, sekolah di
sana menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat.
Kompetisi
yang menjadi tujuan utama keberhasilan peserta didik dalam belajar kemudian
didukung oleh lingkungan sekolah yang memang betul-betul berupaya mencetak
murid-murid prestisius. Tujuan utama belajar bukan hanya agar berhasil masuk
sekolah atau universitas terbaik, tetapi juga mempu tampil di kancah
Internasional dalam kompetisi di segala bidang. Maka, tidaklah mengherankan
jika dalam berbagai kompetisi pelajar asal Tiongkok kerap menjadi yang terbaik,
salah satunya dalam kancah Olimpiade Internasional.
Mereka tidak berlomba –lomba menjadi
murid teladan dan prestasi di bidangnya dalam lingkup kecil, melainkan sampai
pada level dunia. Murid-murid di Tiongkok memang dididik sedemikian rupa agar
menjadi anak-anak yang berbeda dan mempunyai prestasi dan kemampuan akademik
membanggakan. Karenanya, banyak kalangan menyatakan bahwa Tiongkok adalah
Negara paling prestisius di berbagai bidang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar