Kamis, 22 September 2016

Metode Pembelajara Ala Tiongkok. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Perencanaan Pembelajaran. Dosen : Dr.Dirgantara Wicaksono, M.Pd

Metode Pembelajaran di Sekolah
A.  Jam Belajar Panjang
Durasi jam belajar setiap jenjang pendidikan di Tiongkok berbeda-beda. untuk
SD               : 06.30 – 15.00
SMP : 06.30 – 17.00
SMA : 06.30 – 19.00 dan di berikan kelas tambahan hingga 22.30
Dengan jam belajar yang berlangsung sepanjang hari, sekolah di Tiongkok termasuk kategori unggul di dunia.
Lalu, apa yang mendasari Tiongkok menerapkan jam belajar yang sangat panjang ? salah satunya adalah Tiongkok ingin melahirkan murid-murid yang berprestasi tingkat dunia. Dalam hal ini, orang tua murid turut memberi dukungan, terutama agar putra-putrinya berhasil masuk universitas terkemuka. Di Tiongkok hampir tidak mungkin dijumpai seorang anak SD yang bermain di luar rumah karena mereka sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan hari Sabtu yang lazimnya dimanfaatkan untuk bersantai tetap digunakan untuk belajar. Pada hari itu, mereka belajar bahasa Inggris atau memperdalam penguasaan mata pelajaran lainnya.
B.   Pengasramaan Peserta Didik
Keunggulan lainnya dari murid yang diasramakan adalah mempunyai waktu diskusi yang lebih banyak. Selain itu, para murid yang pernah tinggal di asrama biasanya juga mememiliki karakter berbeda dengan siswa biasanya. Pada umumnya mereka mampu bersikap toleran karena setiap waktu selalu hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki beragam karakter. Mereka hidup di lingkungan yang sama dalam berbagai perbedaan. Kondisi ini menyebabkan mereka mampu menunjukkan toleransi lebih tinggi dari pada siswa-siswi yang tidak pernah hidup di dalam asrama.
Sekolah-sekolah yang mempunyai asrama untuk anak didiknya sangat diminati di Tiongkok. Karenanya, sekolah-sekolah berasrama sudah menjadi semacam tradisi, meskipun tidak semua memilikinya. Bahkan, pada jenjang taman kanak-kanak sekalipun ada banyak sekolah yang juga mengasramakan murid-muridnya. TK- TK  berasrama juga diminati masyarakat. Meskipun belum ada data resmi mengenai jumlah TK berasrama di Tiongkok, jumlahnya diyakini sudah menembus angka ribuan. Tk berasrama tersebut terbesar di kota-kota besar, seperti Shanghai, Beijing dan masih banyak lagi. Anak-anak berusia mulai daari empat tahun tersebut bersekolah dan tinggal di asrama. Mereka tinggal di sana mulai senin pagi hingga Jum’at sore. Artinya hanya akhir pekan mereka berada di rumah.
Terkait fasilitas dan lingkungan yang serba mewah, salah satu asrama Tiongkok bahkan dinobatkan sebagai yang terbaik dunia. Sekolah tersebut berwarna Dulwich College Management Internasional (DCMI). Sekolah asrama ini mempunyai jaringan fasilitas pendidikan di Asia berdasarkan filsafat salah satu sekolah independen terkemuka di Inggris, Dulwich Internasional College, London. DCMI beroperasi di Tiongkok di kota Shanghai.
C.   Frekuensi Perkerjaan Rumah (PR) Tinggi
Pekerjaan rumah merupakan salah satu instrument yang banyak digunakan guru dalam pelajaran. Dengan perkerjaan rumah :
·         murid dapat terbantu untuk mengetahui , memiliki keterampilan, serta memahami hal-hal yang sedang mereka pelajari.
·         Melalui pemberian pekerjaan rumah, proses pencapaian tujuan pembelajaran diharapkan berjalan dua arah, yakni di sekolah dan rumah.
·         Dapat melatih anak untuk mengembangkan manajemen waktu.
·         Murid mulai belajar membagi waktu antara belajar dan bermain.
·         Mereka akan mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah sesuai jadwal.
·         Para siswa belajar melakukan apa pun secara mandiri. Karenanya, pekerjaan rumah juga mendorong sikap disiplin pada diri murid.
Tahukah anda bahwa murid Tiongkok mendapatkan lebih banyak PR daripada sekolah-sekolah lain di dunia? Para guru di Tiongkok memang sengaja memberikan PR yang begitu banyak kepada para siswa agar mereka lebih cepat memahami pelajaran dari seharusnya. Hal ini berdasarkan laporan terbaru dari organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang melakukan tes standart PISA (Programme for Internasional Student Assessment) terhadap Tiongkok dalam bidang baca tulis, berhitung, dan sains. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa murid-murid di Shanghai mempunyai peningkatan nilai dalam mata pelajaran matematika mereka hingga 17 poin dari setiap jam tambahan untuk mengerjakan tugas.
Pelajar di Tiongkok menghabiskan waktu rata-rata 8,6 jam sehari di kelas. Sementara itu, anak-anak Shanghai juga banyak menghabiskan waktu dalam mengerjakan tugas sekolah, yakni hingga 14 jam perminggu. Hal ini berbanding terbalik dengan pelajar di Indonesia dimana mereka pda umumnya hanya menghabiskan sekitar 4,9 jam per minggu untuk mengerjakan tugas. Berangkat dari fakta ini, maka tidaklah heran jika kemudian diketahui bahwa kualitas akademik pelajar Shanghai sangat bagus.

D.   Budaya Tidur Siang di Sekolah

 Jika di Indonesia para siswa dilarang tidur didalam kelas, di Cina tidur siang di dalam kelas malah sudah jadi budaya beberapa sekolah dasar. Seperti sekolah dasar 1 Goaxin di Cina bagian barat, yang telah mewajibkan para siswa untuk tetap tidur siang didalam kelas setiap hari sekolah. Dan kegiatam tidur siang ini termasuk dalam kegiatan sekolah. Bila ada siswa yang takmau tidur siang, maka para gurupun akan mendorong mereka masuk kedalam kelas dan memerintahkannya untuk tidur siang.


Atukah anda bahwa murid-murid di Tiongok diperbolehkan tidur didalam kelas. Bahkan mereka juga dipersilahkan membawa selimut dan bantal agar dapat tidur dengan lebih nyaman dan nyenyak.
Tidur siang di sekolah-sekolah Tiongkok sudah menjadi budaya dan kewajiban yang harus dipenuhi setiap murid. Jika ada murid yang tidak melakukannya. Ia akan dinilai sama dengan melanggar peraturan sekolah. Dalam hal ini dapat diambil contoh Gaoxin Number 1 Primary School yang terletak di Xi’an, Tiongkok bagian barat. Di sekolah tersebut, murid-murid diwajibkan tidur siang di dalam kelas setiap hari. Bahkan, tidur siang ini termasuk dalam katagori kegiatan sekolah. Hal ini dibuktikan dengan sikap guru yang sangat tegas. Jika ada murid-murid yang tidak tidur siang, maka mereka akan didorong masuk kelas dan diperintahkan untuk segera tidur siang.
Para murid tidur dibangku sekolah atau meja masing-masing. Kegiatan yang diberi nama Wu Jiao ini biasanya berlangsung setelah jam makan siang dengan durasi selama setengah jam. Tidur siang di meja atau kursi bagi mereka sangat bermanfaat dapat membantu memulihkan tenaga setelah mereka mengikuti pelajaran sejak pagi. Tidur di siang hari adalah sebuah konsep umum yang sudah dipraktekkan sejak lama.
Kewajiban tidur siang bagi murid merupakan salah satu bentuk perhatian besar guru terhadap anak didiknya. Tidur siang bagi murid-murid di sekolah juga sangat penting karena dapat meningkatkan daya ingat otak. Anak-anak pada umumnya menghabiskan banyak waktu belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah hingga larut malam. Kondisi tersebut membuat tidur siang penting dilakukan karena dapat memulihkan kondisi otak hingga ke batas maksimal. Karenanya, tidur siang dapat bermanfaat memperbaiki daya ingat, tetapi juga meningkatkan kerja otak sehingga bisa menerima pelajaran secara maksimal. Para murid akan lebih mudah menghafal, menambah kreativitas setiap pelajaran sekaligus meningkatkan pemahaman mereka.
Hal ini dibuktikan melalui sebuh penelitian di NASA yang menunjukan bahwa tidur siang selama 30 menit dapat meningkatkan kemampuan kognitif sekitar 40%. Hal ini akan membuat orang yang tidur siang merasa lebih rileks, segar, serta focus. Tidur siang juga meningkatkan kemampuan motorik, keberanian mengambil keputusan, serta semangat dan dapat menurunkan kemungkinan penyakit jantung dan sters sebesar 30%.


A.  Penguasaan terhadap Materi, Konsep, dan Keterampilan.
Tiongkok tidak menggunakan konsep belajar dengan cara menghafal. Konsep menghafal disebut-sebut sebagai cara belajar yang kaku, begitu pun dimata guru. Hal ini disebabkan konsep belajar seperti ini hanya bertujuan untuk lulus ujian. Tiongkok menerapkan cara belajar dimana guru lebih menekankan pada penguasaan materi, konsep, dan keterampilan. Karenanya. Murid-murid di Tiongkok diajarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami sesuatu yang sedang dipelajari. Dengan demikian, murid akan lebih mudah mencerna dan memahami materi pelajaran. Selain itu, murid-murid juga bisa menginternalisasikan pemahaman yang telah diperoleh.
Murid dengan konsep belajar menyeluruh – bukan hanya menghafal – memiliki nalar yang lebih bisa diandalkan karena selalu berpikir dan berlatih memahami materi. Mereka belajar memahami konsep, bagaimana hal itu bisa terjadi, mengapa, apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sebagainya. Ini adalah cara berpikir yang sangat positif yang harus dikembangkan sekaligus memakan waktu cukup lama.

Instructional Design Tiongkok. Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran. Dosen : Dr. Dirgantara Wicaksono,M.Pd




Nama : Mellia Nur Fauziyah 
Seek knowledge up to China. Perhaps the phrase that we often hear by us as a student of knowledge. The phrase was just a picture that we must seek knowledge wherever we are. Not that China is becoming a benchmark we stop looking for science. However, China country serve as examples of countries that have the quality of work and have the router generation outstanding compared to other countries.
Hard work and discipline owned Chinese people which makes it a strong state and a larger current compared with the superpower, like the United States and others. Therefore, the Chinese state used as a country that has more charisma than other countries.
Not only that, for a Muslim, we are obliged to seek knowledge from the cradle to the grave. This has been God wrote in a hadist that reads, “Seek knowledge from the cradle to the grave”. After we are born in this world, in fact we already have an obligation to study. It can be seen from the first time we can talk, crawl, walk, run, read, write, and so forth.
Tiongkok sebagai Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia

            Salah satu bukti kehebatan pendidikan Negara tirai bambu ialah pelajar pendidikan di Shanghai menduduki peringkat pertama dunia dalam katagori system pendidikan terbaik. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survey standar pendidikan melalui Program for Internasional Student Assessment (PISA) terhadap 34 negara di dunia. Tes yang diselenggarakan oleh OECD (Oganization for Economic Cooperation and Development) tersebut melibatkan pera pelajar berusia 15 tahun. Tes tersebut telah memenuhi standar internasional yang meliputi pengujian terhadap beberapa pelajaran, seperti matematika, membaca, dan sains. Dalam hasil survey diketahui bahwa Shanghai menduduki peringkat teratas. Begitu pula secara spesifik dalam bidang matematika dan membaca.
            Sebagai yang terbaik, Tiongkok mempunyai skor yang sangat tinggi melampaui pesaing-pesaingnya, terutama Amerika Serikat. Sementara Indonesia hanya menduduki urutan ke-33 dan peringkat paling bawah ditempati Peru. Skor pelajara Shanghai tersebut adalah 570. Padahal, nilai standar untuk masing-masing bidang studi adalah 494 untuk matematika, 496 untuk membaca, 501 untuk sains. Angka pelajar Shanghai tersebut berada diatas rata-rata (standar) OECD.
            Beberapa fakta tersebut memberi penegasan kepada dunia bahwa Tiongkok adalah Negara yang sukses dalam mengemban tujuan pendidikannya. Dalam hal ini, tujuan utama pendidikan Tiongkok adalah memperisapkan pelajar mengembangkan dirinya dalam dimensi moral, intelektual, fisik, serta estetika sesuai dengan bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa menjadi pekerja sosialisasi yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya, memiliki karakter kuat, serta disiplin.

1.   Mengintip Sejarah Pendidikan Tiongkok
            Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun dan memajukan bangsa. Dengan pendidikan, suatu bangsa bisa mengembangkan masyarakatnya menjadi cerdas dan terampil. Setiap Negara mempunyai keunikan tersendiri dalam hal system pendidikan.

a.    Pengaruh Filsafat dalam Pendidikan Tiongkok
Bangsa Tiongkok memandang pendidikan sebagai segalanya. Orang Tiongkok menomor satukan pendidikan dalam kehidupannya karena mereka menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat. Bahkan, pendidikan menjadi alat bagi filsafat yang sangat mengutamakan etika. Anggapan ini muncul dari ajaran Konfusius yang menyatakan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pada masa itu, ajaran tersebut mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat Tiongkok yang salah satu cirinya ditandai dengan berdirinya Dinasti Han. Anggapan tersebut pun pada gilirannya menjadikan popularitas aliran filsafat Konfusius kembali menguat pada masyarakat Tiongkok.
Keselarasan antara pendidikan dengan filsafat telah memberikan perkembangan yang cukup signifikan terhadap pendidikan. Dari ajaran tersebut, orang Tiongkok akhirnya berpandangan bahwa belajar harus dilakukan sampai mati. Artinya, hanya kematian yang dapat menghentikan proses belajar. Bagi masyarakat Tiongkok, belajar merupakan aktivitas yang harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagai ganjarannya, ada kemungkinan jabatan yang tinggi akan diperoleh. Dengan konsep dan pemikiran seperti ini, sebagaimana dikatakan Raymod Dawson, Tiongkok telah memberikan status yang sangat tinggi pada kegiatan belajar, lebih dari masyarakat mana pun.
Pendidikan adalah mesin yang mengarahkan dunia pada kebenaran sehingga harus terus dikerjar sampai mati. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh ajaran Konghucu, yakni agama bagi sebagian besar nasyarakat Tiongkok.
Pada masa Dinasti Han, pendidikan di Tiongkok sudah berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan didirikannya berbagai sekolah informal oleh para pengikut Konfusius yang berada di beberapa distrik. Disebut sekolah informal karena proses belajar-mengajar yang diterapkan disekolah-sekolah tersebut tidak terikat oleh tempat dan waktu. Pada masa itu, pengajaran dilakukan menggunakan metode ekspositori (ceramah). Dalam model ini, guru lebih aktif dalam mentransfer materi pelajaran kepada para murid.  Berjalannya pendidikan distrik sangat bergantung pada peran para saudagar. Sebab, merekalah yang menjadi donatur bagi kelangsungan sekolah-sekolah tersebut.
Sekolah-sekolah tersebut didirikan dengan tujuan mendapatkan pejabat-pejabat kerajaan yang berkualitas, karenanya, sekolah menjadi media untuk menampung para pemuda yang ingin menuntut ilmu sebelum mereka mengikuti tahapan-tahapan ujian penerimaan sebagai pegawai kekaisaran. Rakyat Tiongkok yang ingin menjadi pegawai kerajaan pada masa itu tidak dipandang dari status sosialnya. Selama mereka bisa melewati berbagai tahapan ujian yang ditetapkan oleh kaisar, siapapun berhak menjadi pegawai kerajaan. Hal ini sejalan dengan ajaran Konfusius yang tidak memperbolehkan seseorang memandang asal usul, strata sosial, ataupun pangkat.
Lalu apa saja materi yang diajarkan saat itu? Berbeda dengan pendidikan modern yang mengajarkan berbagai prisip ilmu, materi pelajaran yang disampaikan dalam masa Dinasti Han berasal dari kitab Konfusius. Di dalam kitab tersebut terkandung beragam prinsip ilmu yang disajikan dalam bentuk kisah dan cerita sastra. Selain itu, kitab konfusius juga mengandung ilmu pasti, hokum, strategi perang, dan sebagainya. Murid tidak hanya dituntut sekedar paham atas semua isi kitab Konfusius. Tetapi juga harus menghafal untuk memantapkan pemahaman. Anjuran lainnya ialah murid juga harus bisa mengembangkan sendiri isi kitab tersebut, kemudian menuangkannya dalam bentuk puisi.
b.    Evaluasi Pendidikan
Sekolah di Tiongkok pada masa itu sudah mengenal evaluasi. Karenanya, setelah proses pembelajaran, para murid akan mengikuti tahapan evaluasi atau system ujian. Disini, ujian yang dilakukan ialah suatu system evaluasi yang kompleks dan dibagi dalam tiga tahapan, diantaranya :

            Li Lanqing selaku Wakil Perdana Menteri Tiongkok yang memegang peranan penting dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan Tiongkok pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000an. Ia adalah orang yang mempunyai visi dan komitmen sangat kuat terhadap dunia pendidikan. Karenanya, disamping menjabat Wakil Perdana Menteri, Li Lanqing juga diberi tugas menangani masalah pendidikan di negeri tersebut. Sekalipun tidak mempunyai latar belakang bidang pendidikan, dalam praktiknya Li Lanqing dianggap berhasil mendorong kemajuan Tiongkok meliputi reformasi pendidikan.  

2.   Sistem Pendidikan Tiongkok saat ini
a.   Sistem Pendidikan Tiongkok
Tiongkok adalah Negara dengan sistem pendidikan yang patut dicontoh karena berhasil mencetak dan melahirkan siswa-siswi berprestasi tingkat dunia. Manajemen pendidikan Tiongkok memiliki karakteristik tersentralisiasi (terpusat), mulai dari level pusat, provinsi, kota madya, kabupaten, dan termasuk daerah otonomi setingkat kota madya. Jenjang pendidikan di Tiongkok dibagi menjadi empat sector, yaitu basic education, technical dan vocational education, higher education serta education. Selain itu, Tiongkok juga mengenal pendidikan prasekolah. Pada jenjang ini, anak murid diajarkan beberapa hal meliputi permainan, kegiatan kelas, olahraga, observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.

b.    Jam Belajar dan Pendekatan Pembelajaran
Sebelum membahas sistem pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai jam belajar dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh tiongkok. Sebagaimana diketahui bahwa secara geografis, Tiongkok berada di belahan bumi utara. Karenanya, Tiongkok memberikan libur musim panas yang jatuh pada pertengahan Juli hingga akhir Agustus. Selain itu, ada pula libur musim dingin yang terjadi pada bulan Januari dan Februari. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran disekolah berlangsung pada bulan September hingga pertengahan Juli. Sementara itu, tahun akademik dibagi menjadi 2 semester dimulai pada tanggal 1 September dan 1 Maret.
Liburan musim panas tidak dimanfaatkan untuk berlibur, tetapi diganti dengan pelajaran tambahan. Pelajaran tambahan ini biasa disebut sebagai kelas musim panas atau belajar untuk mempersiapkan ujian. Adapun jam belajar di sekolah rata-rata masuk pukul 07.30 dan berakhir pada jam 17.00 dengan diselingi istirahat siang selama dua jam.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan bukanlah menghafal sebagaimana lazim diterapkan. Pendidikan di Tiongkok lebih menekankan pada penguasaan materi, konsep, dan keterampilan. Karenanya, murid-murid di Tiongkok tidak dituntut untuk menghafal mata pelajaran, materi atau konsep. Mereka justru dijarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami suatu hal yang sedang dipelajari. Pendekatan seperti ini dipandang lebih efektif daripada menghafal karena memudahkan murid di dalam mencerna pelajaran. Mereka juga akan lebih mudah memahami hal-hal yang telah diperoleh sehingga terinternalisasi sepenuhnya di dalam diri.
Proses belajar-mengajar tidak hanya dilakukan didalam kelas (indoor), tetapi juga di luar kelas (outdoor). Karenanya, proses belajar-mengajar di Tiongkok sangat variatif karena bisa dilakukan dimana saja, termasuk laboratorium dan alam bebas. Hal ini dilakukan dengan tujuan meransang kemampuan afektif dan psikomotorik murid. Dengan demikian, murid akan lebih mudah menangkap dan mencerna pelajaran karena proses pembelajaran yang dilakukan pleh sekolah sangat menyenangkan sehingga menjadikan murid lebih bersemangat.
Dengan mencermati uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan di Tiongkok sangat bertolak belakang dengan yang diterapkan ditanah air. Pola pendidikan disana tidak memerintahkan siswa-siswinya untuk menghafal karena lebih menekankan penguasaan materi dan keterampilan peserta didik. Hal ini sepenuhnya didukung oleh proses belajar-mengajar yang kondusif sehingga tingkat keberhasilan pendidikan sangat tinggi.
Pendekatan pembelajaran ini juga didukung sepenuhnya oleh kurikulum modern, sarana dan prasarana memadai, tenaga pengajar berkualitas, serta dana pendidikan yang mencukupi. Bahkan, hal tersebut semakin menjanjikan berkat tingginya budaya belajar masyarakat Tiongkok. Tanpa semua hal tersebut, pendekatan pembelajaran tidak akan efektif dan Tiongkok mustahil dikenal sebagai salah satu Negara maju di dunia saat ini.

c.    Kurikulum Pendidikan Tiongkok
Reformasi pendidikan di Tiongkok telah memberikan angin segar turut mengubah kurikulum sekolah. Li lanqing melakukan reformasi pendidikan mencakup semua aspek. Tidak hanya dalam buku teks, sistem evaluasi, dan ujian, Li Lanqing juga melakukan reformasi pada kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Kurikulum jiga diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi yang dimiliki murid agar dapat berkembang secara optimal. Selain itu, dilakukan pula pembenahan pada pola belajar-mengajar. Pembelajaran harus berorientasi pada siswa melalui diskusi, mendorong cara berpikir inovatif, serta mengedepankan kualitas.
Tiongkok lebih menitikberatkan mata pelajaran yang berunsur praktis sehingga disana sekolah mewajibkan setiap murid berlatih olahraga, setidaknya satu jam sebelum pelajaran dimulai. Selain itu, sekolah Tiongkok juga menganggap memasak sebagai salah satu bidang yang sangat penting selain seni budaya. Karenanya sekolah di Tiongkok mempraktikkan memasak ini karena memang harus dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana pendidikan di Indonesia, sistem penilaian di Tiongkok berkaitan erat dengan ujian. Karenanya ujian adalah hal penting sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Sehubungan dengan itu, pada setiap tingkatan sekolah di Tiongkok diadakan ujian. Bahkan, pada jenjang sekolah dasar dan menengah dilaksanakan empat macam ujian dengan rincian ujian semester, ujian tahunan, ujian akhir sekolah, serta tes masuk SMP / SMA. Untuk jenjang SMP, materi yang diujikan terbatas pada mata pelajaran bahasa Mandarin dan Matematika. Sementara itu, untuk ujian masuk SMA, pelaksanaanya digabung dengan ujian akhir SMP. Adapun untuk masuk penguruan tinggi diadakan seleksi dalam wujud ujian seleksi nasional. Pada ujian ini, pilihan ilmu sosial dan sains dipisahkan.
Lalu seperti apa kerangka dasar dan struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus ? kurikulum yang di maksud mancakup beberapa hal :
1.    Kelompok mata pelajaran Tiongkok dan moral.
2.    Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika.
3.    Kelompok mata pelajaran sosial dan politik.
4.    Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
5.    Kelompok mata pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa asing.
Mata pelajaran pada setiap jenjang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkatan dan kesulitan pelajaran. Sehubungan dengan itu, berikut adalah jumlah mata pelajaran dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas :
a.    Sekolah dasar memiliki 10 mata pelajaran wajib di antaranya moral, matematika, dan Tiongkok atau bahasa Mandarin.
b.    Mata pelajaran wajib pada sekolah menengah pertama terdiri dari 13 jenis, diantaranya moral, Tiongkok, bahasa asing, serta politik.
c.    Adapun untuk sekolah menengah atas, tidak ada bobot mata pelajaran yang diwajibkan. Hal ini disebabkan SMA menetapkan suatu sistem yang menyesuaikan mata pelajaran dengan keinginan siswa, kebutuhan sosial masyarakat, serta kondisi lembaga setempat dengan beberapa mata pelajaran pilihan. Untuk kelulusan SMA, Tiongkok menggunakan sistem ujian nasional. Selanjutnya, untuk masuk ke perguruan tinggi digunakan ujian atau seleksi masuk.
d.   Tenaga Pengajar
            Perlu diketahui bahwa peranan guru sangat vital terhadap kehidupan dan kelangsungan proses belajar-mengajar. Karenanya, kualitas dan kompetensi guru harus benar-benar terjamin. Jika guru berkualitas rendah maka hanya akan menghasilkan siswa-siswi yang kurang bermutu. Di Tiongkok, kualitas dan kompetensi guru betul-betul terjaga karena hal itu merupakan jaminan untuk masa depan para siswa. Guru yang tidak berkualitas betul-betul dilarang karena dapat menjadi boomerang bagi pendidikan.
            Di  Tiongkok, guru dikelompokkan berdasarkan kualitasnya. Adapun pihak yang memberikan penilaian terhadap guru tersebut adalah siswa-siswi di sekolah. Siswa mendapatkan kebebasan dalam memberikan penilaian terhadap kualitas guru secara objektif, mulai dari berkompeten sampai tidak berkualitas.
            Untuk mendapatkan guru yang berkualitas dan kompeten, pemerintah Tiongkok mengadakan pendidikan guru. Dalam pandangan masyarakat, pendidikan guru merupakan elemen penting dari sistem pendidikan sosialis di Tiongkok. Bahkan, pendidikan guru menjadi salah satu tulang punggung dalam kemajuan pendidikan Tiongkok selama 50 tahun terakhir. Hal ini tidak megherankan mengingat pemerintah sangat bersungguh-sungguh memerhatikan masalah ini. Dalam hal ini pemerintah memberikan kebijakan yang sangat baik dalam membangun kualitas guru bertaraf internasional.
 1.   Prinsip Mengajar Orang Tiongkok
a)   Displin Tinggi
Tidak ada kesuksesan dalam hal apaun tanpa didasari kedisiplinan. Dalam hal pendidikan dan sekolah, kedisiplinan menjadi hal yang paling penting guna melahirkan siswa-siswi unggul. Sekolah-sekolah di Tiongkok menanamkan sikap disiplin yang sangat kuat. Para guru menerapkan disiplin secara ketat dan setiap murid diharuskan menaati peraturan-peraturan di sekolah. Tidak hanya murid, para guru juga harus disiplin karena mereka contoh nyata peserta didik. Jika ada siswa yang terbukti melanggar peraturan maka sanksi tegas akan diberikan tanpa pandang bulu.
Bentuk kedisiplinan yang sangat ekstrem terdapat pada jenjang pendidikan atau sekolah atlet usia dini. Bentuk disiplin di sekolah-sekolah tersebut dapat dikatakan mengerikan. Sebab, peserta didik mendapat tekanan intens agar mereka dikemudian hari berhasil menjadi juara kompetisi internasional, terutama olimpiade.
Dengan adanya kedisiplinan yang sangat tinggi tersebut, tidaklah mengherankan jika murid-murid di Tiongkok kemudian mampu meraih prestasi. Bagaimanapun kedisiplinan memang sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan disiplin, baik dalam menggunakan waktu, belajar, serta menjalankan segala aktivitas, pelajar Tiongkok menjadi sosok yang luar biasa.

b)  Spesifikasi jelas
Pendidikan di Tongkok mempunyai spesifikasi yang jelas dan hal ini telah dibentuk sejak dini. Karenanya, jika seseorang anak mempunyai kecendrungan terhadap setuatu bidang ilmu maka sejak dini mereka sudah mendapatkan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ilmu tersebut, bahkan ketika ia sampai pada pendidikan jenjang perguruan tinggi, kecendrungan tersebut dapat dipenuhi dengan mengambil jurusan yang sesuai. Sebagai contoh :
Seorang murid mempunyai kecendrungan dalam bidang misalnya akupunktur dengan berbagai cara , salah satunya melalui les privat atau kursus yang mengajarkan pengetahuan tentang pengobatan akupuntur. Begitu menempuh pendidikan tinggi, ia dapat lebih serius menekuni dunia akupuntur dengan cara mengambil spesifikasi tersebut dalam bentuk jurusan.
            Dengan mengambil spesifikasi seperti ini, murid tersebut dicetak menjadi tenaga ahli yang sebenarnya. Kelak ia bukan hanya menjadu sarjana akupuntur, tetapi benar-benar menjadi tenaga pengobatan yang sangat ahli. Hal ini tentu berbeda dengan fenomena ditanah air di mana banyak orang hanya mencari gelar dan ijazah.
            Dimasa lalu, akupuntur tidak diakui oleh dunia Barat karena dianggap aneh dan cendrung mengarah ke hal-hal yang berbau klenik, namun demikian, tiongkok tetap mengembangkan pengobatan akupuntur ini secara serius dengan cara memberikan pelayanan terhadap murid-murid yang ingin mendalami dan memiliki kecendrungan terhadap jenis pengobatan ini. Para murid mendapatkan fasilitas dan dukungan, baik dari sekolah, pemerintah, maupun orang tua. Karenanya, mereka bisa menguasai akupuntur ini dengan baik sekaligus menunjukan kepada dunia bahwa ilmu yang selama ini mereka pelajari dan kembangkan sangat bermanfaat dalam dunia pengobatan Tiongkok.
            Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa baik pemerintah maupun orang tua mempunyai tanggung jawab penuh dalam memnuhi kecendrungan dan spesifikasi pendidikan anak. Dalam hal ini, anak yang mempunyai bakat dan kecendrungan pada bidang tertentu harus mendapatkan perhatian serius dengan cara memberikan dukungan dan bimbingan semaksimal mungkin. Hal ini bertujuan agar bakat anak tersebut dapat dikembangkan secara optimal. Karenanya, lembaga pendidikan menjadi satu-satunya media yang bisa memberikan pelayanan dan fasilitas terhadap anak tersebut.
c)   Target yang jelas
Bagaimana target pendidikan bisa menjadi jelas ? untuk menjawab hal ini, perlu diingat kembali prihal tujuan pendidikan di Toingkok. Dalam hal ini, pendidikan nasional dilakukan dengan tujuan mempersiapkan pelajar untuk mengembangkan diri dengan sebaik-baiknya, baik dalam dimensi moral, intelektual, fisik, dan estetika, sesuai bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat menjadi pekerja sosialis yang memiliki idealism, terdidik dan berbudaya, berkarakter kuat, serta displin. Selain itu, pendidikan juga dilakukan untuk menopang pembangunan sosialis di Tiongkok.
Target pendidikan Tiongkok bukanlah memperoleh gelar dan ijazah. Selama menempuh studi, target peserta didik sangat jelas, yaitu menjadi sosok intelektual dan ahli sesuai bidang yang ditekuni. Kemudian, setelah lulus, mereka akan bekerja untuk memajukan Negara, baik dalam instensi pemerintahan maupun swasta. Dengan target-target tersebut, kegagalan pendidikan tentu sangat minim karena sekolah memberikan pendidikan yang layak dan optimal. Begitu juga peserta didik menjadi lebih giat belajar agar mampu mencapai target=target yang ditentukan.
d)  Kompetisi sangat ketat
Para pelajar di Tiongkok tidak suka bersantai atau bermalas-malasan. Saat waktu istirahat, murid-murid di Tiongkok tidak menghabiskan waktu dengan bermain ataupun keluar dari lingkungan sekolah. Sebalinya, waktu istirahat disana dimanfaatkan untuk makan dan tidur siang. Hal ini tidak mengherankan mengingat murid-murid disana sangat tekun dan serius dalam belajar. Terlebih, sekolah di sana menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat.
Kompetisi yang menjadi tujuan utama keberhasilan peserta didik dalam belajar kemudian didukung oleh lingkungan sekolah yang memang betul-betul berupaya mencetak murid-murid prestisius. Tujuan utama belajar bukan hanya agar berhasil masuk sekolah atau universitas terbaik, tetapi juga mempu tampil di kancah Internasional dalam kompetisi di segala bidang. Maka, tidaklah mengherankan jika dalam berbagai kompetisi pelajar asal Tiongkok kerap menjadi yang terbaik, salah satunya dalam kancah Olimpiade Internasional.
Mereka tidak berlomba –lomba menjadi murid teladan dan prestasi di bidangnya dalam lingkup kecil, melainkan sampai pada level dunia. Murid-murid di Tiongkok memang dididik sedemikian rupa agar menjadi anak-anak yang berbeda dan mempunyai prestasi dan kemampuan akademik membanggakan. Karenanya, banyak kalangan menyatakan bahwa Tiongkok adalah Negara paling prestisius di berbagai bidang.

Jumat, 16 September 2016





Tiongkok sebagai Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia

            Salah satu bukti kehebatan pendidikan Negara tirai bambu ialah pelajar pendidikan di Shanghai menduduki peringkat pertama dunia dalam katagori system pendidikan terbaik. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survey standar pendidikan melalui Program for Internasional Student Assessment (PISA) terhadap 34 negara di dunia. Tes yang diselenggarakan oleh OECD (Oganization for Economic Cooperation and Development) tersebut melibatkan pera pelajar berusia 15 tahun. Tes tersebut telah memenuhi standar internasional yang meliputi pengujian terhadap beberapa pelajaran, seperti matematika, membaca, dan sains. Dalam hasil survey diketahui bahwa Shanghai menduduki peringkat teratas. Begitu pula secara spesifik dalam bidang matematika dan membaca.
            Sebagai yang terbaik, Tiongkok mempunyai skor yang sangat tinggi melampaui pesaing-pesaingnya, terutama Amerika Serikat. Sementara Indonesia hanya menduduki urutan ke-33 dan peringkat paling bawah ditempati Peru. Skor pelajara Shanghai tersebut adalah 570. Padahal, nilai standar untuk masing-masing bidang studi adalah 494 untuk matematika, 496 untuk membaca, 501 untuk sains. Angka pelajar Shanghai tersebut berada diatas rata-rata (standar) OECD.
            Beberapa fakta tersebut memberi penegasan kepada dunia bahwa Tiongkok adalah Negara yang sukses dalam mengemban tujuan pendidikannya. Dalam hal ini, tujuan utama pendidikan Tiongkok adalah memperisapkan pelajar mengembangkan dirinya dalam dimensi moral, intelektual, fisik, serta estetika sesuai dengan bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa menjadi pekerja sosialisasi yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya, memiliki karakter kuat, serta disiplin.

1.     Mengintip Sejarah Pendidikan Tiongkok
            Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun dan memajukan bangsa. Dengan pendidikan, suatu bangsa bisa mengembangkan masyarakatnya menjadi cerdas dan terampil. Setiap Negara mempunyai keunikan tersendiri dalam hal system pendidikan.

a.      Pengaruh Filsafat dalam Pendidikan Tiongkok
Bangsa Tiongkok memandang pendidikan sebagai segalanya. Orang Tiongkok menomor satukan pendidikan dalam kehidupannya karena mereka menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat. Bahkan, pendidikan menjadi alat bagi filsafat yang sangat mengutamakan etika. Anggapan ini muncul dari ajaran Konfusius yang menyatakan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pada masa itu, ajaran tersebut mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat Tiongkok yang salah satu cirinya ditandai dengan berdirinya Dinasti Han. Anggapan tersebut pun pada gilirannya menjadikan popularitas aliran filsafat Konfusius kembali menguat pada masyarakat Tiongkok.
Keselarasan antara pendidikan dengan filsafat telah memberikan perkembangan yang cukup signifikan terhadap pendidikan. Dari ajaran tersebut, orang Tiongkok akhirnya berpandangan bahwa belajar harus dilakukan sampai mati. Artinya, hanya kematian yang dapat menghentikan proses belajar. Bagi masyarakat Tiongkok, belajar merupakan aktivitas yang harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagai ganjarannya, ada kemungkinan jabatan yang tinggi akan diperoleh. Dengan konsep dan pemikiran seperti ini, sebagaimana dikatakan Raymod Dawson, Tiongkok telah memberikan status yang sangat tinggi pada kegiatan belajar, lebih dari masyarakat mana pun.
Pendidikan adalah mesin yang mengarahkan dunia pada kebenaran sehingga harus terus dikerjar sampai mati. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh ajaran Konghucu, yakni agama bagi sebagian besar nasyarakat Tiongkok.
Pada masa Dinasti Han, pendidikan di Tiongkok sudah berkembang pesat. Hal ini ditandai dengan didirikannya berbagai sekolah informal oleh para pengikut Konfusius yang berada di beberapa distrik. Disebut sekolah informal karena proses belajar-mengajar yang diterapkan disekolah-sekolah tersebut tidak terikat oleh tempat dan waktu. Pada masa itu, pengajaran dilakukan menggunakan metode ekspositori (ceramah). Dalam model ini, guru lebih aktif dalam mentransfer materi pelajaran kepada para murid.  Berjalannya pendidikan distrik sangat bergantung pada peran para saudagar. Sebab, merekalah yang menjadi donatur bagi kelangsungan sekolah-sekolah tersebut.
Sekolah-sekolah tersebut didirikan dengan tujuan mendapatkan pejabat-pejabat kerajaan yang berkualitas, karenanya, sekolah menjadi media untuk menampung para pemuda yang ingin menuntut ilmu sebelum mereka mengikuti tahapan-tahapan ujian penerimaan sebagai pegawai kekaisaran. Rakyat Tiongkok yang ingin menjadi pegawai kerajaan pada masa itu tidak dipandang dari status sosialnya. Selama mereka bisa melewati berbagai tahapan ujian yang ditetapkan oleh kaisar, siapapun berhak menjadi pegawai kerajaan. Hal ini sejalan dengan ajaran Konfusius yang tidak memperbolehkan seseorang memandang asal usul, strata sosial, ataupun pangkat.
Lalu apa saja materi yang diajarkan saat itu? Berbeda dengan pendidikan modern yang mengajarkan berbagai prisip ilmu, materi pelajaran yang disampaikan dalam masa Dinasti Han berasal dari kitab Konfusius. Di dalam kitab tersebut terkandung beragam prinsip ilmu yang disajikan dalam bentuk kisah dan cerita sastra. Selain itu, kitab konfusius juga mengandung ilmu pasti, hokum, strategi perang, dan sebagainya. Murid tidak hanya dituntut sekedar paham atas semua isi kitab Konfusius. Tetapi juga harus menghafal untuk memantapkan pemahaman. Anjuran lainnya ialah murid juga harus bisa mengembangkan sendiri isi kitab tersebut, kemudian menuangkannya dalam bentuk puisi.
b.      Evaluasi Pendidikan
Sekolah di Tiongkok pada masa itu sudah mengenal evaluasi. Karenanya, setelah proses pembelajaran, para murid akan mengikuti tahapan evaluasi atau system ujian. Disini, ujian yang dilakukan ialah suatu system evaluasi yang kompleks dan dibagi dalam tiga tahapan, diantaranya :

            Li Lanqing selaku Wakil Perdana Menteri Tiongkok yang memegang peranan penting dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan Tiongkok pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000an. Ia adalah orang yang mempunyai visi dan komitmen sangat kuat terhadap dunia pendidikan. Karenanya, disamping menjabat Wakil Perdana Menteri, Li Lanqing juga diberi tugas menangani masalah pendidikan di negeri tersebut. Sekalipun tidak mempunyai latar belakang bidang pendidikan, dalam praktiknya Li Lanqing dianggap berhasil mendorong kemajuan Tiongkok meliputi reformasi pendidikan.  

2.     Sistem Pendidikan Tiongkok saat ini
a.     Sistem Pendidikan Tiongkok
Tiongkok adalah Negara dengan sistem pendidikan yang patut dicontoh karena berhasil mencetak dan melahirkan siswa-siswi berprestasi tingkat dunia. Manajemen pendidikan Tiongkok memiliki karakteristik tersentralisiasi (terpusat), mulai dari level pusat, provinsi, kota madya, kabupaten, dan termasuk daerah otonomi setingkat kota madya. Jenjang pendidikan di Tiongkok dibagi menjadi empat sector, yaitu basic education, technical dan vocational education, higher education serta education. Selain itu, Tiongkok juga mengenal pendidikan prasekolah. Pada jenjang ini, anak murid diajarkan beberapa hal meliputi permainan, kegiatan kelas, olahraga, observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.

b.      Jam Belajar dan Pendekatan Pembelajaran
Sebelum membahas sistem pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai jam belajar dan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh tiongkok. Sebagaimana diketahui bahwa secara geografis, Tiongkok berada di belahan bumi utara. Karenanya, Tiongkok memberikan libur musim panas yang jatuh pada pertengahan Juli hingga akhir Agustus. Selain itu, ada pula libur musim dingin yang terjadi pada bulan Januari dan Februari. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran disekolah berlangsung pada bulan September hingga pertengahan Juli. Sementara itu, tahun akademik dibagi menjadi 2 semester dimulai pada tanggal 1 September dan 1 Maret.
Liburan musim panas tidak dimanfaatkan untuk berlibur, tetapi diganti dengan pelajaran tambahan. Pelajaran tambahan ini biasa disebut sebagai kelas musim panas atau belajar untuk mempersiapkan ujian. Adapun jam belajar di sekolah rata-rata masuk pukul 07.30 dan berakhir pada jam 17.00 dengan diselingi istirahat siang selama dua jam.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan bukanlah menghafal sebagaimana lazim diterapkan. Pendidikan di Tiongkok lebih menekankan pada penguasaan materi, konsep, dan keterampilan. Karenanya, murid-murid di Tiongkok tidak dituntut untuk menghafal mata pelajaran, materi atau konsep. Mereka justru dijarkan dan diarahkan untuk memahami dan mengalami suatu hal yang sedang dipelajari. Pendekatan seperti ini dipandang lebih efektif daripada menghafal karena memudahkan murid di dalam mencerna pelajaran. Mereka juga akan lebih mudah memahami hal-hal yang telah diperoleh sehingga terinternalisasi sepenuhnya di dalam diri.
Proses belajar-mengajar tidak hanya dilakukan didalam kelas (indoor), tetapi juga di luar kelas (outdoor). Karenanya, proses belajar-mengajar di Tiongkok sangat variatif karena bisa dilakukan dimana saja, termasuk laboratorium dan alam bebas. Hal ini dilakukan dengan tujuan meransang kemampuan afektif dan psikomotorik murid. Dengan demikian, murid akan lebih mudah menangkap dan mencerna pelajaran karena proses pembelajaran yang dilakukan pleh sekolah sangat menyenangkan sehingga menjadikan murid lebih bersemangat.
Dengan mencermati uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan di Tiongkok sangat bertolak belakang dengan yang diterapkan ditanah air. Pola pendidikan disana tidak memerintahkan siswa-siswinya untuk menghafal karena lebih menekankan penguasaan materi dan keterampilan peserta didik. Hal ini sepenuhnya didukung oleh proses belajar-mengajar yang kondusif sehingga tingkat keberhasilan pendidikan sangat tinggi.
Pendekatan pembelajaran ini juga didukung sepenuhnya oleh kurikulum modern, sarana dan prasarana memadai, tenaga pengajar berkualitas, serta dana pendidikan yang mencukupi. Bahkan, hal tersebut semakin menjanjikan berkat tingginya budaya belajar masyarakat Tiongkok. Tanpa semua hal tersebut, pendekatan pembelajaran tidak akan efektif dan Tiongkok mustahil dikenal sebagai salah satu Negara maju di dunia saat ini.

c.       Kurikulum Pendidikan Tiongkok
Reformasi pendidikan di Tiongkok telah memberikan angin segar turut mengubah kurikulum sekolah. Li lanqing melakukan reformasi pendidikan mencakup semua aspek. Tidak hanya dalam buku teks, sistem evaluasi, dan ujian, Li Lanqing juga melakukan reformasi pada kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Kurikulum jiga diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi yang dimiliki murid agar dapat berkembang secara optimal. Selain itu, dilakukan pula pembenahan pada pola belajar-mengajar. Pembelajaran harus berorientasi pada siswa melalui diskusi, mendorong cara berpikir inovatif, serta mengedepankan kualitas.
Tiongkok lebih menitikberatkan mata pelajaran yang berunsur praktis sehingga disana sekolah mewajibkan setiap murid berlatih olahraga, setidaknya satu jam sebelum pelajaran dimulai. Selain itu, sekolah Tiongkok juga menganggap memasak sebagai salah satu bidang yang sangat penting selain seni budaya. Karenanya sekolah di Tiongkok mempraktikkan memasak ini karena memang harus dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana pendidikan di Indonesia, sistem penilaian di Tiongkok berkaitan erat dengan ujian. Karenanya ujian adalah hal penting sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Sehubungan dengan itu, pada setiap tingkatan sekolah di Tiongkok diadakan ujian. Bahkan, pada jenjang sekolah dasar dan menengah dilaksanakan empat macam ujian dengan rincian ujian semester, ujian tahunan, ujian akhir sekolah, serta tes masuk SMP / SMA. Untuk jenjang SMP, materi yang diujikan terbatas pada mata pelajaran bahasa Mandarin dan Matematika. Sementara itu, untuk ujian masuk SMA, pelaksanaanya digabung dengan ujian akhir SMP. Adapun untuk masuk penguruan tinggi diadakan seleksi dalam wujud ujian seleksi nasional. Pada ujian ini, pilihan ilmu sosial dan sains dipisahkan.
Lalu seperti apa kerangka dasar dan struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus ? kurikulum yang di maksud mancakup beberapa hal :
1.      Kelompok mata pelajaran Tiongkok dan moral.
2.      Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika.
3.      Kelompok mata pelajaran sosial dan politik.
4.      Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
5.      Kelompok mata pelajaran bahasa Mandarin dan bahasa asing.
Mata pelajaran pada setiap jenjang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkatan dan kesulitan pelajaran. Sehubungan dengan itu, berikut adalah jumlah mata pelajaran dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas :
a.      Sekolah dasar memiliki 10 mata pelajaran wajib di antaranya moral, matematika, dan Tiongkok atau bahasa Mandarin.
b.      Mata pelajaran wajib pada sekolah menengah pertama terdiri dari 13 jenis, diantaranya moral, Tiongkok, bahasa asing, serta politik.
c.       Adapun untuk sekolah menengah atas, tidak ada bobot mata pelajaran yang diwajibkan. Hal ini disebabkan SMA menetapkan suatu sistem yang menyesuaikan mata pelajaran dengan keinginan siswa, kebutuhan sosial masyarakat, serta kondisi lembaga setempat dengan beberapa mata pelajaran pilihan. Untuk kelulusan SMA, Tiongkok menggunakan sistem ujian nasional. Selanjutnya, untuk masuk ke perguruan tinggi digunakan ujian atau seleksi masuk.
d.     Tenaga Pengajar
            Perlu diketahui bahwa peranan guru sangat vital terhadap kehidupan dan kelangsungan proses belajar-mengajar. Karenanya, kualitas dan kompetensi guru harus benar-benar terjamin. Jika guru berkualitas rendah maka hanya akan menghasilkan siswa-siswi yang kurang bermutu. Di Tiongkok, kualitas dan kompetensi guru betul-betul terjaga karena hal itu merupakan jaminan untuk masa depan para siswa. Guru yang tidak berkualitas betul-betul dilarang karena dapat menjadi boomerang bagi pendidikan.
            Di  Tiongkok, guru dikelompokkan berdasarkan kualitasnya. Adapun pihak yang memberikan penilaian terhadap guru tersebut adalah siswa-siswi di sekolah. Siswa mendapatkan kebebasan dalam memberikan penilaian terhadap kualitas guru secara objektif, mulai dari berkompeten sampai tidak berkualitas.
            Untuk mendapatkan guru yang berkualitas dan kompeten, pemerintah Tiongkok mengadakan pendidikan guru. Dalam pandangan masyarakat, pendidikan guru merupakan elemen penting dari sistem pendidikan sosialis di Tiongkok. Bahkan, pendidikan guru menjadi salah satu tulang punggung dalam kemajuan pendidikan Tiongkok selama 50 tahun terakhir. Hal ini tidak megherankan mengingat pemerintah sangat bersungguh-sungguh memerhatikan masalah ini. Dalam hal ini pemerintah memberikan kebijakan yang sangat baik dalam membangun kualitas guru bertaraf internasional.

3.     Prinsip Mengajar Orang Tiongkok
a)     Displin Tinggi
Tidak ada kesuksesan dalam hal apaun tanpa didasari kedisiplinan. Dalam hal pendidikan dan sekolah, kedisiplinan menjadi hal yang paling penting guna melahirkan siswa-siswi unggul. Sekolah-sekolah di Tiongkok menanamkan sikap disiplin yang sangat kuat. Para guru menerapkan disiplin secara ketat dan setiap murid diharuskan menaati peraturan-peraturan di sekolah. Tidak hanya murid, para guru juga harus disiplin karena mereka contoh nyata peserta didik. Jika ada siswa yang terbukti melanggar peraturan maka sanksi tegas akan diberikan tanpa pandang bulu.
Bentuk kedisiplinan yang sangat ekstrem terdapat pada jenjang pendidikan atau sekolah atlet usia dini. Bentuk disiplin di sekolah-sekolah tersebut dapat dikatakan mengerikan. Sebab, peserta didik mendapat tekanan intens agar mereka dikemudian hari berhasil menjadi juara kompetisi internasional, terutama olimpiade.
Dengan adanya kedisiplinan yang sangat tinggi tersebut, tidaklah mengherankan jika murid-murid di Tiongkok kemudian mampu meraih prestasi. Bagaimanapun kedisiplinan memang sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan disiplin, baik dalam menggunakan waktu, belajar, serta menjalankan segala aktivitas, pelajar Tiongkok menjadi sosok yang luar biasa.

b)    Spesifikasi jelas
Pendidikan di Tongkok mempunyai spesifikasi yang jelas dan hal ini telah dibentuk sejak dini. Karenanya, jika seseorang anak mempunyai kecendrungan terhadap setuatu bidang ilmu maka sejak dini mereka sudah mendapatkan pendidikan mengenai prinsip-prinsip ilmu tersebut, bahkan ketika ia sampai pada pendidikan jenjang perguruan tinggi, kecendrungan tersebut dapat dipenuhi dengan mengambil jurusan yang sesuai. Sebagai contoh :
Seorang murid mempunyai kecendrungan dalam bidang misalnya akupunktur dengan berbagai cara , salah satunya melalui les privat atau kursus yang mengajarkan pengetahuan tentang pengobatan akupuntur. Begitu menempuh pendidikan tinggi, ia dapat lebih serius menekuni dunia akupuntur dengan cara mengambil spesifikasi tersebut dalam bentuk jurusan.
            Dengan mengambil spesifikasi seperti ini, murid tersebut dicetak menjadi tenaga ahli yang sebenarnya. Kelak ia bukan hanya menjadu sarjana akupuntur, tetapi benar-benar menjadi tenaga pengobatan yang sangat ahli. Hal ini tentu berbeda dengan fenomena ditanah air di mana banyak orang hanya mencari gelar dan ijazah.
            Dimasa lalu, akupuntur tidak diakui oleh dunia Barat karena dianggap aneh dan cendrung mengarah ke hal-hal yang berbau klenik, namun demikian, tiongkok tetap mengembangkan pengobatan akupuntur ini secara serius dengan cara memberikan pelayanan terhadap murid-murid yang ingin mendalami dan memiliki kecendrungan terhadap jenis pengobatan ini. Para murid mendapatkan fasilitas dan dukungan, baik dari sekolah, pemerintah, maupun orang tua. Karenanya, mereka bisa menguasai akupuntur ini dengan baik sekaligus menunjukan kepada dunia bahwa ilmu yang selama ini mereka pelajari dan kembangkan sangat bermanfaat dalam dunia pengobatan Tiongkok.
            Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa baik pemerintah maupun orang tua mempunyai tanggung jawab penuh dalam memnuhi kecendrungan dan spesifikasi pendidikan anak. Dalam hal ini, anak yang mempunyai bakat dan kecendrungan pada bidang tertentu harus mendapatkan perhatian serius dengan cara memberikan dukungan dan bimbingan semaksimal mungkin. Hal ini bertujuan agar bakat anak tersebut dapat dikembangkan secara optimal. Karenanya, lembaga pendidikan menjadi satu-satunya media yang bisa memberikan pelayanan dan fasilitas terhadap anak tersebut.
c)     Target yang jelas
Bagaimana target pendidikan bisa menjadi jelas ? untuk menjawab hal ini, perlu diingat kembali prihal tujuan pendidikan di Toingkok. Dalam hal ini, pendidikan nasional dilakukan dengan tujuan mempersiapkan pelajar untuk mengembangkan diri dengan sebaik-baiknya, baik dalam dimensi moral, intelektual, fisik, dan estetika, sesuai bidang pekerjaannya kelak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat menjadi pekerja sosialis yang memiliki idealism, terdidik dan berbudaya, berkarakter kuat, serta displin. Selain itu, pendidikan juga dilakukan untuk menopang pembangunan sosialis di Tiongkok.
Target pendidikan Tiongkok bukanlah memperoleh gelar dan ijazah. Selama menempuh studi, target peserta didik sangat jelas, yaitu menjadi sosok intelektual dan ahli sesuai bidang yang ditekuni. Kemudian, setelah lulus, mereka akan bekerja untuk memajukan Negara, baik dalam instensi pemerintahan maupun swasta. Dengan target-target tersebut, kegagalan pendidikan tentu sangat minim karena sekolah memberikan pendidikan yang layak dan optimal. Begitu juga peserta didik menjadi lebih giat belajar agar mampu mencapai target=target yang ditentukan.
d)    Kompetisi sangat ketat
Para pelajar di Tiongkok tidak suka bersantai atau bermalas-malasan. Saat waktu istirahat, murid-murid di Tiongkok tidak menghabiskan waktu dengan bermain ataupun keluar dari lingkungan sekolah. Sebalinya, waktu istirahat disana dimanfaatkan untuk makan dan tidur siang. Hal ini tidak mengherankan mengingat murid-murid disana sangat tekun dan serius dalam belajar. Terlebih, sekolah di sana menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat.
Kompetisi yang menjadi tujuan utama keberhasilan peserta didik dalam belajar kemudian didukung oleh lingkungan sekolah yang memang betul-betul berupaya mencetak murid-murid prestisius. Tujuan utama belajar bukan hanya agar berhasil masuk sekolah atau universitas terbaik, tetapi juga mempu tampil di kancah Internasional dalam kompetisi di segala bidang. Maka, tidaklah mengherankan jika dalam berbagai kompetisi pelajar asal Tiongkok kerap menjadi yang terbaik, salah satunya dalam kancah Olimpiade Internasional.
Mereka tidak berlomba –lomba menjadi murid teladan dan prestasi di bidangnya dalam lingkup kecil, melainkan sampai pada level dunia. Murid-murid di Tiongkok memang dididik sedemikian rupa agar menjadi anak-anak yang berbeda dan mempunyai prestasi dan kemampuan akademik membanggakan. Karenanya, banyak kalangan menyatakan bahwa Tiongkok adalah Negara paling prestisius di berbagai bidang.





Metode Pembelajaran di Sekolah
A.    Jam Belajar Panjang
Durasi jam belajar setiap jenjang pendidikan di Tiongkok berbeda-beda. untuk
SD    : 06.30 – 15.00
SMP : 06.30 – 17.00
SMA : 06.30 – 19.00 dan di berikan kelas tambahan hingga 22.30
Dengan jam belajar yang berlangsung sepanjang hari, sekolah di Tiongkok termasuk kategori unggul di dunia.
Lalu, apa yang mendasari Tiongkok menerapkan jam belajar yang sangat panjang ? salah satunya adalah Tiongkok ingin melahirkan murid-murid yang berprestasi tingkat dunia. Dalam hal ini, orang tua murid turut memberi dukungan, terutama agar putra-putrinya berhasil masuk universitas terkemuka. Di Tiongkok hampir tidak mungkin dijumpai seorang anak SD yang bermain di luar rumah karena mereka sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan hari Sabtu yang lazimnya dimanfaatkan untuk bersantai tetap digunakan untuk belajar. Pada hari itu, mereka belajar bahasa Inggris atau memperdalam penguasaan mata pelajaran lainnya. 

untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran 
Dosen : Dirgantara Wicaksono,M.Pd