RANCANGAN PEMBELAJARAN DENGAN KONSEP
KURIKULUM KTSP ATAU KURIKULUM 2013 UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH :
PERENCANAAN PEMEBELAJARAN : Dr. Dirgantara Wicaksono,M.Pd
MELLIA NUR FAUZIYAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Abstract
Perubahan
suatu kurikulum suatu hal biasa demi memperbaiki kualitas pendidikan suatu Negara.
Sama halnya, untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, salah satunya,
dapat dilakukan dengan evaluasi dan memperbarui kurikulum pendidikan nasional. Evaluasi
perlu dilakukan secara berkala sebagai upaya penilaian relevansi kurikulum
dengan anak-anak dalam konteks tempat dan waktu yang terus menerus berubah
secara dinamis Reformasi kurikulum KTSP menjadi
KURTILAS bertujuan agar pesrta didik menjadi cerdas, bermoral,
berakhlak, kreatif, komunikatif, dan toleran dalam kehidupan beragama.
Keywords: Konsep Kurikulum KTSP atau KURTILAS
BAB
1
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan penjabaran tujuan
pendidikan yang menjadi landasan program pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan
upaya yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan dirumuskan dalam kurikulum.
Perubahan Kurikulum KTSP 2006 ke K 2013 merupakan salah satu
upaya untuk mempengaruhi setelah dilakukan evaluasi kurikulum sesuai dengan
kebutuhan anak bangsa. Inti K 2013 terletak pada upaya penyederhanaan dan sifatnya
yang tematik-integratif. Seperti diungkapkan Amin Haedari (2013) bahwa K 2013
disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi tantangan masa
depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa
depan.
Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan
agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam
melakukan observasi, bertanya (wawancara), bernalar, dan mengkomunikasikan (
mempersentasikan) apa yang diperoleh atau diketahui setelah menerima materi
pembelajaran. Adapun pembelajaran dalam K 2013 berupa : fenomena alam, sosial,
seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan peserta didik memiliki
kompetensi sikap, akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Sehingga nantinya diakhir zaman nya, memasuki
masa depan yang lebih baik.
Tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini
agar kita mengetahi rancangan pembelajaran dengan konsep kurikulum KTSP dan
Kurikulum 2013.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kurikulum KTSP (2006)
Bertalian dengan urutan Departemen
Pendidikan Nasional, di mana penyusun kurikulum didasar pada standar Kompetensi
Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) hasil rumusan Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP), maka sekolah/madrasah dapat menyusun kurikulum sendiri. Dalam
hal ini, otonomi lebih besar diberikan kepada sekolah/ madrasah bertalian
dengan pengembangan kurikulum, yang kemudian disebut KTSP.
Dikatakan Muhaimin et.al (2009: 2-5) bahwa
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang
disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan (sekolah/
madrasah). Sedangkan pemerintah pusat hanya memberi rambu-rambu yang perlu
dirujuk dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1.
Undang-Undang
No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.
Peraturan
Pemerintah No.19/2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.
3.
Peraturan
Mentri Pendidikan Nasional No.22/2006 tentang Standar Isi.
4.
Peraturan
Mentri Pendidikan Nasional No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
untuk 24/2006 tentang dari kedua Peraturan Materi Nasional tersebut.
5.
Panduan
dari BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
yang terbit pada 2006 merupakan penyempurnaan kurikulum 2004 yang diwujudkan dalam standart
kompetensi dan kompetensi dasar. Kurikulum KTSP diberlakukan secara bertahap
pada tahun ajaran 2006 -2007, pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Berbeda
dengan kurikulum sebelumnya KTSP disusun oleh satuan pendidikan masing-masing.
KTSP lebih fokus pada pengembangan seluruh
kompetensi peserta didik. Mereka dibantu agar kompetensinya muncul dan
berkembang secara maksimal. Menurut Muslich (op.cit:11) KTSP dikembangkan pada
prinsip-prinsip, yaitu :
1)
Berpusat
pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta
lingkungannya.
2)
Keberagaman
dan terpadu.
3)
Tanggap
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4)
Relevan
dengan kebutuhan kehidupan.
5)
Menyeluruh
dan berkesinambungan.
6)
Belajar
sepanjang hayat.
7)
Seimbang
antara nasional dan kepentingan daerah
Berdasarkan Permendiknas No.22/2006 tentang
Standar Isi, ,mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai
kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi yang
dimaksud membuat kerangka dasar stuktur kurikulum khususnya Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP).
B.
Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dikembangkan setelah
memperlihatkan berbagai gejala sosial yang muncul beserta antisipan
kencendrungan –kecendrungan ruangan yang
akan muncul sebagai konsukuensi dari gejala yang ada.
Pembelajaran di Sekolah Dasar menggunakan
pendekatan tematik terpadu untuk seluruh kelas, kelas satu hingga kelas enam. Hal
ini berimplikasi menuntut semua guru kelas disekolah dasar memahami dan
terampil membawakan pelajaran tematik.
Tema, sub tema, jejaring tema, materi,
prosoes pembelajaran, beserta alat dan penilaiannya untuk tiap kelas sudah
disiapkan oleh pemeritah dalam bentuk pegangan guru, guru tinggal
mempelajarinya hingga memahami dengan benar. Proses pembelajaran menggunakan
pendekatan berorientasi pada siswa (student centered).
Pada umumnya perencanaan pembelajaran dalam
konteks kurikulum 2013, khususnya untuk mempelajaran terpadu tematik tidak jauh
berdeda dengan RPP yang telah ada sebelumnya. Perbedaan yang paling mencolok
setelah adanya pencantuman KI di bagian awal RPP dan penggunaan pendekatan
saintifik dalam proses pembelajaran. Artinya dalam kegiatan inti pembelajran,
menerapkan tahapan-tahapan pendekapan saintifik yang terdiri dari lima M. yang
pada dasarnya merupakan pengembangan lebih jauh dari tahapan eksplorasi,
elabirasi dan konfirmasi.
C.
Ada
dua argumentasi pokok atas perlunya perubahan kurikulum 2006 (KTSP) menjadi
kurikulum 2013, yakni :
1)
Internal,
diantara nya :
a.
Konten
kurikulum yang masih terlalu padat, ditunjukkan dengan banyak mata pelajaran
dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat
perkembangan usia anak.
b.
Belum
sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional.
c.
Kompetensi
belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan
pengetahuan, beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan
kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif,
keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodai di
dalam kurikulum
d.
Belum
peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat local,
nasional dan global.
e.
Standar
proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga
membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran
yang berpusat pada guru.
f.
Standar
penilaian belum mengarah pada penilaian berbasis kompetensi (proses)
g.
KTSP
memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi
tafsir.
2)
Eksternal,
arus globalisasi dan perkembangan pendidikan pada tingkat internasional. Arus globalisasi
akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional
menjadi masyarakat industry dan perdagangan modern. Seperti terlihat dari
munculnya blok-blok organisasi perdagangan dunia, antara lain : World Trade
Organization (WTO), ASEAN Community (MEA-2015), dan Asean Free Trade Area
(AFTA) !
D.
Adapun kelemahan-kelemahan KTSP 2006 dilihat dari
kondisi terkini dan kondisi ideal yang diharapkan dapat diterapkan dalam K2013,
dalam Anonim, Diknas (2013:13), dapat dilihat pada table berikut :
Analisis
kondisi Aktual (saat ini) kurikulum 2006 (KTSP) dan kondisi Idealnya Kurikulum
2013.
|
KONDISI
SAAT INI
|
IDEALNYA
|
|
A. Kompetensi Lulusan
·
Belum mencerminkan
karakter mulia.
·
Keterampilan belum
sesuai dengan kebutuhan.
·
Pengetahuan –pengetahuan
lepas
|
Berkarakter mulia.
Keterampilan relevan.
Pengetahuan terkait.
|
|
B.
Materi
Pelajaran
·
Belum
relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan.
·
Beban
belajar terlalu berat.
·
Terlalu
luas, kurang mendalam.
|
Relevan dengan
kebutuhan.
Materi essensial.
Sesuai dengan
perkembangan anak.
|
|
C.
Proses
Pembelajaran
·
Berpusat
pada guru.
·
Sifat
pembelajaran yang berpusat pada buku teks.
|
Berpusat pada
anak didik.
Sifat pembelajaran
adalah konteks buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem
penilaian dan kompetensi yang diharapkan.
|
|
D.
Penilaian
·
Menekankan
aspek kognitif .
·
Tes menjadi
cara penilaian domain
|
Menekankan
kepada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara proporsional.
Penilaian
dengan tes dan portofolio secara seimbang.
|
|
E.
Pendidikan
dan Tenaga Kependidikan
·
Memenuhi
kompetensi profesi saja.
·
Focus
pada ukuran kinerja PTK.
|
Memenuhi
kompetensi profesi, pedagogic, sosial, dan personal.
Motivasi mengajar.
|
|
F.
Pengelolaan
Kurikulum
·
Satuan
pendidikan mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum.
·
Masih
terdapat kecendrungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa
mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik dan
potensi daerah.
·
Pemerintah
hanya menyiapkan sampai standart isi.
|
Pemeritah
pusat dan daerah mempunyai kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum
ditingkat satuan pendidikan.
Satuan pendidikan
mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan,
kebutuhan peserta didik dan potensi daerah.
Pemerintah
menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman
pelaksanaannya.
|
BAB III
KESIMPULAN
Jadi, perubahan suatu kurikulum pada suatu Negara
merupakan suatu hal yang normal sebagai respon positif-konseptual terhadap
berbagai dilemma dan fenomena berbangsa ditengah pergaulannya dengan belahan
dunia lainnya. Menginat, diera globalisasi ini suatu Negara hamper tidak
terpisah bahkan semakin dekat, boardless-world, dengan bangsa lainnya,
interaksipun tidak bisa dihindari.
Disinilah, agaknya kurikulum memang harus
menyesuaikan dengan fenomena masyarakat yang dinamis dan senantiasa berubah. Suatu
hal yang penting, setiap adanya kurikulum baru, seperti K 2013, diperlukan
pentingnya keterlibatan semua elmen terkait dalam proses implementasi kurikulum
tersebut secara maksimal. Jika hal ini demikian terjadi apapun bentuk substansi
suatu kurikulum akan bernilai dan bermanfaat dalam mempersiapkan anak didik dan
generasi muda yang siap menempuh kehidupan sesuai dengan zaman.
REFERENSI
Idi, Abdullah. (2014) Pengembangan
Kurikulum Teori & Praktik. Jakarta : Rajawali Pers
Kurniawan, Deni (2014) Pembelajaran Terpadu
Tematik. Bandung : Alfabet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar